Minggu, 17 Juli 2011

0 Takdir Historis bagi Doktrin Karl Marx Vladimir Lenin (1913)

 

 

Keutamaan doktrin Marx adalah ia memunculkan peran historis kaum proletariat sebagai pembangun masyarakat Sosialis. Sudahkah jalannya kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx? Marx pertama kali mengajukannya di tahun 1844. Manifesto Komunis Marx dan Engels, terbit tahun 1848, memberikan sebuah eksposisi yang integral dan sistematis dari doktrin ini, sebuah eksposisi yang bertahan sebagai yang terbaik hingga hari ini. Sejak itu secara jelas sejarah dunia terbagi menjadi tiga periode utama: (1) dari revolusi 1848 sampai Komune Paris (1871); (2) dari Komune Paris sampai revolusi Rusia (1905); (3) sejak revolusi Rusia.

Marilah kita melihat apa yang telah menjadi takdir dari doktrin Marx dalam masing-masing periode ini.

I.

Pada permulaan periode pertama, doktrin Marx sama sekali tidak mendominasi. Ia hanya satu dari banyak sekali kelompok atau trend sosialisme. Bentuk-bentuk sosialisme yang mendominasi berada dalam keluarga utama Narodisme kita: ketidakpahaman basis materialis mengenai gerakan historis, ketidakmampuan untuk memilih peran dan signifikasi dari tiap kelas dalam masyarakat kapitalis, penyembunyian sifat kaum borjuis mengenai demokrasi di bawah berbagai ragam bentukan ulang, ungkapan-ungkapan kaum sosialis-semu tentang "rakyat", "keadilan", "hak", dan sebagainya.
Revolusi 1848 telah memberikan pukulan mematikan pada bentuk-bentuk sosialisme pra-Marxian yang riuh rendah, warna-warni, serta banyak lagak. Di semua negara, revolusi membuka kedok bagaimana kelas-kelas sosial yang beraneka ragam dalam tindakannya. Penembakan terhadap buruh-buruh oleh borjuasi republikan di Paris dalam Hari-hari Juni 1848 akhirnya menyingkapkan bahwa kaum proletar sendiri yang sosialis. Kaum borjuis liberal takut kemerdekaan kelas ini seratus kali lebih daripada kelas ini melakukan reaksi macam apapun. Kaum liberal terpaksa perlu menyembah reaksi. Kaum tani berisi abolisi dari orang-orang yang bertahan hidup dari feodalisme dan gabungan para pendukung tatanan, tetapi kadang-kadang terombang-ambing antara demokrasi pekerja dan liberalisme borjuis. Semua doktrin mengenai sosialisme tanpa-kelas dan politik tanpa-kelas terbukti omong kosong semata.
Komune Paris (1871) melengkapi perkembangan perubahan borjuis ini; republik, yaitu bentuk dari organisasi politik yang di dalamnya relasi-relasi kelas muncul dalam bentuk yang paling tidak dapat disembunyikan, sepenuhnya berhutang konsolidasinya pada heroisme kaum proletar.
Di dalam semua negara Eropa lainnya, sebuah perkembangan yang lebih kacau dan kurang komplit menimbulkan akibat serupa --sebuah masyarakat borjuis yang telah mengambil bentuk definitif. Menjelang akhir periode pertama (1848-71) yang merupakan sebuah periode berbagai badai dan revolusi, sosialisme pra-Marxian mati. Partai-partai independen kaum proletar bermunculan: Internasional Pertama (1864-72) dan Partai Sosial-Demokratik Jerman.
II.
Periode kedua (1872-1904) dibedakan dari periode pertama oleh karakternya yang "damai", oleh tiadanya berbagai revolusi. Dunia Barat telah selesai dengan revolusi-revolusi borjuis. Dunia Timur belum muncul ke arah itu.
Dunia Barat memasuki fase persiapan "damai" bagi perubahan yang akan tiba. Partai-partai sosialis, yang secara mendasar proletar, dibentuk di mana-mana dan belajar menggunakan parlementerisme borjuis dan menggunakan terbitan harian mereka sendiri, institusi-institusi pendidikan mereka, serikat-serikat pekerja mereka, dan masyarakat-masyarakat kooperatif mereka. Doktrin Marx memperoleh sebuah kemenangan penuh dan mulai tersebar. Penyeleksian dan pengumpulan kekuatan-kekuatan kaum proletar, serta persiapannya untuk menghadapi pertempuran yang akan tiba mencapai kemajuan-kemajuan secara lambat tapi mantap.
Dialektika sejarah adalah sebagaimana bahwa kemenangan teoritis dari Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis. Liberalisme, bosok di dalam, mencoba untuk membangkitkan kembali dirinya dalam bentuk oportunisme sosialis. Mereka menafsirkan periode penyiapan kekuatan-kekuatan untuk pertempuran-pertempuran besar sebagai penolakan terhadap pertempuran-pertempuran ini. Kemajuan kondisi-kondisi kaum budak untuk melawan perbudakan upah kerja mereka ambil dalam pengertian penjualan hak atas kemerdekaan oleh para budak demi uang dalam jumlah kecil. Mereka berlutut dan memohon adanya "perdamaian sosial" (yaitu perdamaian dengan para pemilik budak), penolakan atas perjuangan kelas, dan lain sebagainya. Mereka memiliki amat banyak pengikut di tengah kaum sosialis yang menjadi anggota parlemen, beraneka pejabat dalam gerakan kelas pekerja, dan kaum cendekiawan yang "bersimpatik".
III.
Bagaimanapun, kaum oportunis hampir tidak mungkin memberi ucapan selamat pada diri mereka sendiri atas "perdamaian sosial" dan atas pergolakan-pergolakan yang tidak-merupakan-keharusan di bawah "demokrasi" ketika sebuah sumber baru dari pergolakan besar dunia terbuka di Asia. Revolusi Rusia diikuti oleh revolusi di Turki, Persia, dan Cina. Dalam era yang penuh badai dan "akibat-akibat" darinya di Eropa inilah kita sekarang hidup. Tidak masalah nasib apa dari Republik Cina Besar melawan berbagai macam hyena "beradab" yang sekarang tengah mengasah gigi geligi mereka, tak ada kekuatan di atas bumi dapat menempatkan kembali perbudakan yang lama di Asia ataupun memusnahkan demokrasi yang heroik dari massa di negara-negara Asiatik dan negara-negara semi-Asiatik. Orang-orang tertentu, yang kurang memperhatikan kondisi-kondisi bagi persiapan dan perkembangan perjuangan massa, terperosok dalam keputusasaan dan anarkisme akibat penundaan panjang dalam perjuangan yang menentukan melawan kapitalisme di Eropa. Sekarang kita dapat melihat bagaimana gelap mata dan patah arangnya keputusasaan kaum anarkis ini.
Fakta bahwa Asia, dengan populasinya 800 juta jiwa, telah terseret ke dalam perjuangan demi ideal-ideal yang sama dengan halnya ideal yang diimpikan oleh orang Eropa, harus menginspirasi kita dengan optimisme dan bukan keputusasaan.
Revolusi-revolusi Asiatik telah memperlihatkan lagi kepada kita tentang lemah lunglainya dan betapa rendah budinya liberalisme, kepentingan khusus mengenai kemerdekaan massa demokratik, dan demarkasi yang harus diucapkan dengan jelas antara kaum proletar dengan segala jenis borjuasi. Setelah pengalaman baik Eropa dan Asia, sembarang orang yang bicara mengenai politik-politik non-kelas dan sosialisme non-kelas, selayaknya tanpa basa basi diletakkan dalam sebuah kandang dan dipamerkan berdampingan dengan kanguru-kanguru Australia atau makhluk sejenis itu.
Setelah Asia, Eropa juga telah mulai bangkit, meskipun tidak dengan cara Asiatik. Periode "damai" dari 1872-1904 telah berlalu dan tak akan pernah kembali. Tingginya biaya hidup dan tirani dari perseroan-perseroan sedang menimbulkan penajaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perjuangan ekonomi, yang telah menjadi gerakan bahkan para buruh Inggris yang telah paling dikorup oleh liberalisme. Kita melihat sebuah krisis politik timbul bahkan di Jerman, negara Junker-borjuis yang paling "keras kepala". Persenjataan dan kebijaksanaan yang hingar bingar dari imperialisme membelokkan Eropa modern ke dalam sebuah "kedamaian sosial" yang lebih mirip sebuah tong mesiu. Bersamaan dengan pembusukan partai kaum borjuis, pematangan kaum proletar membuat kemajuan yang mantap dan terus menerus.
Sejak kemunculan Marxisme, tiap periode dari tiga periode besar sejarah dunia telah membawa konfirmasi baru serta kemenangan-kemenangan baru kepada Marxisme. Tetapi masih ada sebuah kemenangan lebih besar menantikan Marxisme, sebagai doktrin kaum proletar, dalam periode sejarah yang akan tiba.

V. I. Lenin

Diterbitkan dalam Pravda No. 50, 1 Maret 1913
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stepan Apresyan (1963). Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim (November 1998)
Diterjemahkan dari teks dalam Marxists' Internet Archive



0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy