Jumat, 17 Juni 2011

0 Drama tamu Istimewa

Drama Tamu Istimewa
Adaptasi cerpen Put dan Pit
Karya Anis Kurniawan Al-Asyari

Pemeran:
Put
Pit
Nenek
Kakek
Ibu
Pelamar
Tetangga
Dukun beranak
Dukun/ Sanro

BABAK I
ADEGAN I
Pagi di sebuah rumah, seorang ibu hamil sedang menyapu. Perutnya yang besar menunjukkan masa kehamilannya sudah melewati batas normal. Sesaat kemudian ia merasakan sakit yang sangat pada perutnya. Wajahnya memerah, keringat mengalir deras di dahinya. Ia terduduk  pada salah satu kursi di ruangan itu. Dengan susah payah ia bergerak, berusaha berjalan menuju ke pintu kamar yang ada didekatnya. Dengan suara yang setengah tertahan ia merintih.
Ibu       : Ma`, Ma`…, Ma`
Tidak ada jawaban dari ruang dalam, ia nyaris tersungkur saat ibu yang dipanggilnya Ma` berhasil menahan tubuhnya. Tapi di usianya yang tua ibu tidak mampu menopang seluruh tubuh anaknya, di tengah kekhawatirannya ia berteriak keras.
Nenek  : Pa`…, tolong anak kita Pa`
Datang dengan tergesa-gesa.
Kakek  : ada apa! Dia sudah mau melahirkan?
Nenek  : Ia, panggilkan dukun pa`!
Dalam keadaan panik bercampur gembira, kakek keluar rumah sambil berteriak-teriak.
Kakek  : Anakku mau melahirkan, tolong!
Ia menyampaikan kepada setiap orang yang ditemuinya dijalan. Mendengar hal tersebut, beberapa tetangga berlarian menghampiri rumah, bermaksud memberi pertolongan.
Tetangga I: (terdengar dari dalam kamar) ada apa? Bagaimana keadaannya?
Nenek  : sepertinya ia sangat kesakitan
Tetangga I: saya ambil sesuatu dirumah, tunggu! (berpapasan dengan tetangga II)
Tetangga II: ada apa?
Teangga I: sepertinya ia sangat kesakitan, saya jadi sangat khawatir. lihat saja sendiri, saya buru-buru
Tetangga II: (sedikit jengkel, masuk kedalam kamar) ada apa? Sudah panggil dukun?
Nenek : bapaknya sudah kesana, tapi belum datang-datang juga.
Tetangga II: sepertinya ia sangat kesakitan, tunggu saya!
Seorang tetangga yang lain datang, saat hendak keluar ia berpapasan dengan tetangga I dan melihat bawaanya. Ia mengurungkan niat. Tidak lama berselang tetangga II pun datang. Dalam keadaan panik, kakek tiba bersama seorang dukun yang terlihat jelas tidak sempat mempersiapkan dirinya. Kakek mondar-mandir di ruang tengah dengan penuh kekhawatiran.
Dukun : (dari dalam kamar) saya butuh air…ada gunting…ambilkan air kelapa.
Perintah beruntun menimbulkan kepanikan baru.
Tetangga III: kepalanya sudah kelihatan.
Tetangga II: tarik nafas, dorong, ya…ya sedikit lagi.
Sesaat kemudian suasana hening, kakek mengintip sejenak.
Kakek  : Akhirnya cucuku lahir juga!
Tetangga III: Masih ada satu lagi.
Tetangga I: astagfirullah, sungsang!
Tetangga II: berjuanglah, ayo…!
Tetangga I: kakinya sudah keluar, terus ayo…terus
Nenek  : nak, ada apa? Dia tidak bernafas, tolong!
Tetangga III: Anaknya lahir, anaknya selamat. Bagaimana ibunya?
Bersamaan: Innalillahi wainnailaihi rajiun
Terdengar tangis dari kamar, kakek duduk terpekur sambil sesekali mngusap air matanya

ADEGAN II
Dari dalam kamar keluar beriringan, kakek dengan kedua cucunya yang masih di atas nampan, disusul nenek bersama tetangga mengusung jenazah anaknya.
BABAK II
ADEGAN I
Di kamar berbeda, dua sosok gadis sedang melakukan aktifitas masing-masing. Sosok pertama, Put, seorang gadis bertubuh sedang, memainkan gitar sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sosok kedua, Pit, tubuhnya sedikit gembrot dibanding saudaranya. Ia sedang duduk di depan meja sambil menuliskan sesuatu. Beberapa kembang segar dalam pot ditaruhnya di jendela. Tak tergambar jika mereka adalah saudara kembar.

ADEGAN II
Pagi, semua baru saja terbangun. Terdengar kesibukan nenek di dapur. Beberapa kali juga terdengar suara batuk kakek yang sibuk memberi makan burungnya. Salah satu jendela kamar terbuka. Put baru saja terbangun. Ia langsung mengambil gitar dan mulai bernyanyi. Jendela kamar Pit sama sekali belum terbuka. Beberapa saat kemudian jendela kamar sebelah pun tersingkap. Pit yang membuka jendela, menyentuh kelopak bunga, lalu memagut dirinya di depan cermin, sambil beberapa kali mengepas baju. Ia kemudian duduk menghadap keluar jendela dengan kertas di tangannya.
Put       : (memainkan sebuah lagu, sambil sekali-kali menuliskan sesuatu di kertas)
Pit        : (membaca sebuah tulisannya, kemudian mengalihkan perhatian pada lagu yang
               dinyanyikan Put, wajahnya penuh tanda tanya)
               Menghampiri Put, sambil berkacak pinggang
               Kau mencuri puisiku, ya?
Put       : (dengan sedikit heran) puisimu? Ah, tidak ini lagu yang kubuat sendiri.
Pit        : coba saya lihat. Nah kan, ini tulisan saya! (berlari keruang tengah )
Put       : (mengejar) kembalikan…apa kau lupa, kalau satu-satunya hal yang mirip dari kita hanya tulisan? Sini!
Pit        : tapi…, nanti saya laporkan nenek!
Put       : jangan, nanti malah saya yang dimarahi. Yang bikin masalahkan kamu!
Pit        : biar!
Nenek  : ada apa? Kalian ini, kapan bisa akur?
Pit&Put: kiamat!
Nenek  : (berlalu) anak-anak sekarang, susah dipahami.
Kakek  : kalian ini, inikan hari minggu. Bukannya membantu kakek dan nenek malah bertengkar. Ayo, sana mandi!
Pit&Put: (beranjak meninggalkan ruang tengah, mereka masuk ke kamar masing-masing)

ADEGAN II

Kakek dan Nenek duduk di ruang tengah, mendiskusikan sesuatu.
Kakek  : Put, Pit. Kemari sebentar nak!
Put&Pit: Iya, sebentar!
Nenek  : ada sesuatu yang ingin nenek dan kakek bicarakan.
Kakek  : sebentar lagi kalian sudah 17 tahun. Sejak berusia 6 tahun kalian tidak pernah lagi berpenampilan yang sama. Nah, hari ini kami ingin kalian berpenampilan yang sama.
Put&Pit: Tidak mau!
Nenek  : waktunya terserah kepada kalian, anggaplah ini adalah permintaan kami yang terakhir. Kami sudah sangat tua dan betapa inginnya kami melihat kalian menggunakan pakaian yang sama.
Pit        : tua sih tua, tapi permintaannya jangan macam-macam!
Nenek  :(tidak menghiraukan jawaban Pit) kami sudah mempersiapkan semuanya.
Put       : Kalau begitu, baiklah!
Pit        : tidak, saya tidak mau!
Nenek  : kami juga telah memilih seorang pemuda untuk kalian. Terserah dia mau memilih siapa diantara kalian.
Pit        : pokoknya tidak!
Nenek dan kakek hanya bias mengelus dada, sulit bagi mereka untuk meyakinkan cucu bungsunya itu. Butuh waktu berhari-hari untuk membujuknya. Kakek dan nenek bergantian membujuk Pit setiap kali ada kesempatan. Hingga suatu hari…
Kakek : bagaimana?
Pit        : iya, tapi saya punya syarat!
Nenek  : syarat? Apa itu?
Pit        : kakek dan nenek harus mengiyakannya dulu!
Nenek  : apapun kami penuhi. Kamu ingin baju keluaran terbaru?
Kakek  : atau kau sudah ingin memiliki rumah sendiri, kami belikan!
Pit        : bukan itu, saya sudah cukup dengan tinggal di sini!
Kakek  : Iya, tapi apa. Sebutkanlah!
Pit        : baik, setelah ini saya tidak ingin dibujuk-bujuk lagi!
Nenek  : baik
Pit        : tidak ada lagi permintaan macam-macam, kalo saya dibujuk lagi, saya akan bunuh diri supaya bias bertemu ibu lebih cepat.
Kakek  : jangan bilang begitu nak.
Pit        : saya tidak main-main
Nenek  : baiklah, kami tidak akan membujukmu lagi!
Nenek  : dan jangan pernah berpikir untuk bunuh diri, dosa! Put…!
               (kepada kedua cucunya) Nah karena kalian sudah sepakat, kami akan menunaikan nazar. Kami berjanji, jika kalian mau berpenampilan sama kami akan melakukan ritual!

ADEGAN III
            Sebuah malam jumat yang sendu, kesibukan terjadi di dalam rumah. Terlihat jelas akan ada sebuah perjamuan makan malam. Nampan berisi telur berjejer, sayuran segar, dan beberapa potong ayam. Seorang tua memulai ritual dengan membakar dupa. Disana
duduk dengan sangat hikmat kakek dan nenek serta pit dengan wajah yang kurang ikhlas.
Put hanya memperhatikan dari jauh. Saat asap kemenyan merasuki hidungnya, ia
semakin tidak peduli pada ritual itu. Ditulisnya beberapa sajak untuk digubahnya
menjadi lagu. Pit meniggalkan kakek dan neneknya saat ritual belum tuntas betul. Kakinya lincah menuju teras depan. Ia duduk mencangkung di tangga. Seorang lelaki datang dari gelap, menyelipkan surat, sesaat berhenti mencium aroma kemenyan ia meleparkan senyum pada Pit dan berlalu pergi. Semua terjadi dalam senyap.
Pit beranjak ke kamar, menyelipkan surat di laci meja. Menatap dalam-dalam setiap lembar surat, imajinasinya melayang kebanyak hal.
Pit        : mungkinkah ini rindu? Sulit bagiku untuk jatuh cinta, tapi setiap laki-laki akan terbius oleh penampilanku.

ADEGAN IV
Di ruang tengah, Pit masih bergelut dengan surat-suratnya. Nenek menghampiri.
Nenek  : seminggu lagi akan datang tamu istimewa.
Pit        : seminggu? Siapa?
Nenek  : lelaki!   
Pit        : (sedikit heran) lelaki, nek!
Nenek  : lelaki, memangnya kenapa?
Perbincangan berakhir. Hari-hari semakin dekat. Put dan Pit pun dipaksa berpenampilan
dan berkelakuan sama dalam apa pun.
Pit        : lama-lama saya akan bosan seperti ini, setiap hari harus minum ramuan tradisional berbau jamu itu untuk sama denganmu!
Put       : siapa suruh terima tawaran nenek dan kakek?
Pit        : apa kau tidak kasihan melihat mereka?
Put       : kasihan, tapi saya sudah tidak tahan tidur denganmu!
            Pertengkaran mulai memanas
Pit        : bukannya saya yang harus mengeluh, terganggu suara sumbangmu setiap kali hendak terlelap.
Put       : suara ngorokmu lebih sumbang dari pada nyanyianku.
Pit        : dasar kau, tubuh kecil kayak gitar bututmu itu!
Put       : itu karena kerakusanmu!
Pit        : maksud mu?
Put       : waktu dirahim ibu kau selalu mengambil jatah makanku
Pit        : ibu yang memberikannya!
Put       : (berubah sendu) ibu memang tidak pernah adil kepadaku,
               saat dirahimnya, jika kau mengganggu tidurku dengan tangismu ibu pura-pura tidak tahu!
Pit        : (hanyut dalam susana) dan jika kau bernyanyi dan saya meronta-ronta karena tidak senang, ibu malah menyuruhmu berhenti menyanyi!
Beberapa saat mereka akur, sesaat kemudian berbarengan mereka tertawa hingga air matanya keluar.
Pit & Put         : kita ini benar-benar aneh (beranjak masuk ke kamar)
Kakek dan Nenek yang sedari tadi mendnegarkan perbincangan mereka kemudian mengintip kedalam kamar, memastikan apakah mereka betul-betul telah akur
Kakek  : mereka semakin akrab
Nenek  : iya, tidak sia-sia usaha kita!
Kakek  : ingin rasanya punya cucu lagi
Nenek  : anak kitakan cuma satu
Kakek  : kita bikin lagi! (sambil tersenyum penuh arti)

ADEGAN V
Hari yang dinanti pun tiba. Sebentar lagi lelaki itu akan datang.
Kakek, Nenek, Put, dan Pit telah menanti di ruang tengah.
Kakek  : (kepada Put) dia akan memilih salah satu dari kalian
Nenek  : (kepada Pit) dia akan mempersunting salah satu dari kalian

Lelaki itu pun tiba. Membawa bunga warna-warni, bunga yang
belum pernah dilihat oleh put maupun pit. Pelan-pelan lelaki itu
menghampiri Put. Mata lelaki itu membuat Put gugup, pertama kalinya
jantungnya berdetak karena lelaki. Sementara Pit yang
dihampirinya kemudian tidak ingin jatuh cinta.
Lelaki itu pun dalam kebingungan yang
sungguh, langkah kakinya tegas namun tergambar keraguan.
Ia tenggelam dalam diam. Bunga ditangannya bergetar,
nyaris terjatuh. Lalu tiba-tiba ia mengambil jalan lain. Ia
membalikkan dirinya kearah tangga. Saat lelaki itu tidak lagi terlihat,
Put dan Pit terkesima. Mereka pun berlari kearah berlawanan.
Kakek dan nenek sama-sama terjatuh kaku.
Malam itu tidak lagi muram, ia berubah bening.


LAMPU PADAM









0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy