Kamis, 26 Januari 2012

0 Belajar Psikologis Berorientasi Humanistik

HUMANISTIK
Perhimpunan psikologi  mencatat empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik sebagai berikut:
  1. memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomenon primer dalam mempelajari manusia
  2. menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti memilih, kreativitas, menilai dan realisasi diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistik dan reduksionistik
  3. menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur penelitian yang akan digunakan, serta mnentang penekanan yang berlebihan pada objektivitasyang mengorbankan signifikansi
  4. memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu. Memang individu sebagaimana dia menemukan dirinya sendiri serta dalam hubungannya dengan individu-individu lain dan dengan kelompok-kelompok sosial (Henryk,1988)
Tujuan utama psikologi humanistik, seperti disebutkan oleh Bugental (1967), “ mendeskripsikan secara lengkap apa artinnya sebagai manusia. Tujuan itu, yang tidak pernah bisa dicapai sepenuhnya, meliputi pendeskripsian bakat-bakat bawaan manusia, pertumbuhan, kematangan, penurunan, interaksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya, lingkup dan jenis pengalamannya, dan tempatnya di alam raya.
Serupa dengan penekanan neo-Freudian pada aspek hubungan antar pribadi pada manusia, aliran humanistik-eksistensialist merupakan penafsiran dari paradigma psikososial yang menekankan pada kelahiran, dan mengarah pada aktualisasi diri. Beberapa tokoh yang menganut aliran ini adalah Carl Rogers, Abraham Maslow, Fritz Perls, dan Irvin Yalom
Sebagai tambahan terhadap konsep penganut humanistik yang pada dasarnya baik, Rogers dan Maslow mempetimbangkan bagian yang paling utama dari struktur Psikologis untuk suatu kecenderungan yang bertindak sebagai motivator dan pemrakarsa perilaku (Rogers, 1980). Kecenderungan yang mungkin adalah mewujudkan pemikiran daya penggerak yang mengarahkan seseorang ke arah pemeliharaan dan peningkatan diri. Karena itu, motivasi yang utama dari individu adalah tumbuh dan mengembangkan sepenuhnya potensi yang ia miliki, dan untuk menghadapi ketegangan yang akan muncul dengan baik. Menurut Rogers, perilaku kita yang nampak dapat dijadikan sebagai alat untuk menuju keberhasilan atau memelihara aktualisasi diri.
Perilaku normal pada umumnya memiliki urutan peristiwa tertentu, mulai dengan pengarah ke aktualisasi diri yang diakhiri dengan evaluasi dari tindakan yang dilakukan seseorang. Secara umum, orang menghindari hal/penghargaan yang sifatnya negatif dan mereka akan lebih menghargai hal yang positif. Jika pengalaman mengakibatkan pemeliharaan atau peningkatan diri, maka mereka akan mengulanginya, tetapi jika tidak maka mereka cenderung untuk menghilangkan tingkah laku itu dalam dirinya. Kekacauan perilaku terjadi ketika evaluasi terhadap diri sendiri dikesampingkan oleh hal yang tidak sesuai. Pada diri individu yang sehat, mereka mampu mengevaluasi diri dan menjadikannya sebagai bahan pelajaran. Seorang anak yang menerima unconditional positive regard dari keluarganya tidak memiliki hambatan untuk menerima dan mengarahkan dirinya ke pencapaian aktualisasi diri.
Anxiety terjadi ketika seseorang menjadi sadar akan perilakunya yang tidak sesuai dengan evaluasi dirinya. Anxiety ini dapat ditangani dengan memilih salah satu bentuk pertahanan diri (difence mechanism). Seseorang dapat menghentikan ketertarikannya dengan denial to awareness  (seperti tidak terlalu memikirkan ancaman) atau dengan distorsi awarness (melihat ancaman sebagai suatu nasihat yang baik). Gejala neurotic dan psychotic, dapat ditangani seperti salah satu dari dua contoh tadi sebagai dasar dalam menanganinya.
Serupa dengan Rogers yang menekankan kebaikan dan potensi untuk pertumbuhan dan aktualisasi diri yang tidak bisa dipisahkan dari paham humanistik, Maslow telah menguraikan hierarki kebutuhan manusia yang akan mempengaruhi perilakunya. Menurut teori ini, jika kita tidak menemukan kebutuhan dasar maka kita tidak akan mencapai tahap kebutuhan yang lebih tinggi. Sementara semua orang termotivasi untuk mencapai status aktualisasi diri yang berada di puncak hirarki, beberapa orang akan berhenti karena takut akan kegagalan atau kehilangan atas apa yang telah mereka miliki, juga karena hal lain yang menghalangi mereka yang berada di luar kendalinya. Mereka yang tidak dapat melanjutkan pada tahap kebutuhan selanjutnya akan merasakan atau mengalami perilaku yang tidak teratur.
Tidak seperti Freudian-klasik yang berasumsi bahwa manusia dipandu oleh insting negatifnya dan keinginan yang perlu dikontrol, humanistik umumnya percaya bahwa orang pada dasarnya baik dan jika mereka dibebaskan pada batas internal dan eksternal dimana mereka dapat belajar, mereka akan mencapai tahap aktualisasinya. Untuk terapi humanistik, terapinya melibatkan konstruksi situasi dan dan hubungan potensial bawaan dari lahir yang positif dapat dilepaskan. Contohnya pada client-centered therapy yang dikembangkan oleh Rogers. Ia memikirkan prosedurnya untuk membatalkan kesalahan evaluasi diri yang dapat menggangu mereka dalam mencapai aktualisasi diri. Dalam hal ini terapist harus menjalin hubungan baik dan responsif serta menghasilkan suasana yang reseptif dengan jalan empati, kongruence, dan unconditional positive regard. Dengan empati, berarti therapist mampu untuk mengerti dunia klien yang dihadapinya. Kongruence, menguraikan keaslian dari level tertinggi therapist. Hal ini lebih penting pada statement berikutnya, dimana therapist merespon hal yang penting pada perasaan client. Melalui unconditional positive regard, Rogers mengartikan therapist secra lengkap yang dapat memehami pikiran dan perasaan klientnya (Marshall & Stephen, 1986).
Berbeda dengan Rogers dan Maslow yang menekankan pada pilihan yang disadari dan diketahui. Humanistic-exixtensial percaya bahwa tingkah laku umumnya ditetapkaln oleh cara orang melakukan kebebasan dalam merespon keadaan hidupnya. Orang memandang dengan logika, merasa bahwa takdir bukan dibawah control dasar yang mndesak atau di luat diri mereka tetapi lebih rasional. Saat ini kita dapat menggunakan dua pandangan yang sangat berpengaruh yaitu Gestalt therapy dari Perls dan eksistensial dari Yalom.
 Gestalt therapy yang diusulkan Perls, penggunannya lebih luas dan diterima dalam pendekatan humanistic-eksistensial. Menurut Gestalt therapy, ketidaksenangan seseorang bukan keseluruhan kesadaran dari elemen pengalamannya saat itu. Klien tidak merespon seluruh konfigurasi pengalaman hidup mereka, tetapi lebih pada batas dan perubahan muatannya. Kesadaran (awareness) dapat dibagi dalam dua tipe. Inteligent awarness, yaitu pengalaman seseorang terhadap pengetahuannya pada saat itu, seperti kita “tahu” mengapa kita terluka jika api membakar jari kita. Psychophysical awarness tipe ini lebih halus dan mengabaikan. Contohnya, kita orang terlihat heran dengan mengerutkan keningnya.
Tujuan dari Gestalt therapy adalah untuk mengkoordinasikan kedua hal tersebut diatas sehingga seluruh pengalamannya kongruen. Suatu pernyataan bahwa kita bahagia, hanya sebagai aksi jika kita sengsara, hal ini tidak congruent, kesadaran “body language” dapat membantu kita untuk pengalaman pribadi terhadap kenyataan/keadaan. Gestalt therapy bekerja untuk mencapai physical. Intelligent awarness dapat menipu dan mengontrol kesadaran social dan alasan lain. Ini tidak sama dengan kebenaran pada pengalaman psychophysical.
Perls dan pengikutnya memiliki pengaruh yang bessar pada pemikiran therapy sejak 1960-1970. tidak dapat dielakkan kita semua akan mati, bebas isolasi, dan berarti. Untuk kematian, konflik berada antara kesadaran akan kematian yang tidak mungkin dihindari dan kita menginginkan untuk tetap exis. Kebebasan lebih dihdapkan pada konflik antara keinginan untuk merespon sesuai dengan kehendak kita dengan tidak mempedulikan hal lain. Ketika tahap isolasi, kita mendapatkan tekanan antara keinginan untuk sendiri dan bersama dengan orang lain atau sesuatu.
Menurut model ini, penyebab gangguan perilaku adalah terhambat atau terdiskorsikannya perkembangan pribadi dan kecendrungan wajar ke arah kesehatanfisik dan mental. Hambatan atau distorsi itu sendiri dapat bersumber pada faktor berikut:
  1. penggunaan pertahanan diri yang berlebihan, sehingga individu semakin kehilangan kontak dengan realitas
  2. kondisi-kondisi sosial yang tidak menguntungkan serta prose bejar yang tidaksemestinya
  3. stress yang berlebihan
Maka menurut model ini, tujuan psicotherapy adalah menolong individu meningnkatkan benteng-benteng atau topeng-topeng pertahanan diri dan belajar mengakui atau menerima pengalama pengalaman sejati mereka, belajar mengembangkan berbagai bentuk kompetensi yang diperlukan, dan menemukan nilai-nilai hidup dengan kata lain, individu ditolong mengembangkankemampuan untuk membuat pilihan dan keputusan secara bebas dan benar, tumbuh dan mencapai pemenuhan diri. Tujuan-tujuan diatas dicapai lewat berbagai teknik seperti pertemuan kelompok. Istilah ini telah banyak digunakan secara luas untuk menamai tipe-tipe kontak antar manusia yang berbeda-yang baik, yang buruk, dan yang tidak mengenal kasihan. Istilah ini telah diterapkan pada hubungan cinta di antara dua orang atau pada pertentangan dengan kebenaran. Dewasa ini istilah tersebut digunakan untuk menunjuk pada kehadiran bersama dari orang-orang dalam kelompok melalui pembentukan hubungan di antara mereka, belajar bagaimana keperibadian dibentuk, berfungsi, berubah, dan tumbuh (Henryk, 1988).  Berbagai jenis pelatihan (seperti awarness training, yaitu sejenis pelatihan untuk memahami dan menemukan diri, aseptivenes training yaitu untuk mengembangkan sikap aseptiv atau terbuka, terusterang dengan tetap mempertahankan hubungan baik dengan orang lain, dsb) dan berbagai teknik experential lain yang bertujuan menolng individu mengaktualisasikan diri, menajin hubungan yang lebih, memuaskan dengan orang lain dan menguasai cara-cara yang lebih efektif dalam mengatasi berbagai masalah hidup (Supratiknya,1995).     


  
COGNITIVE PERSPECTIVE
Behaviorist terutama memandang perilaku sebagai sebuah proses kontrol yang  pasif  melalui stimulus eksternal dan penguat, ini diambil dari interpretasi kognitf paradigma psikkososial yang menekankan kemampuan manusia bukan hanya pada respon tetapi mereka secara aktif mengorganisir pengalamannya. Dugaan dasar dari teori kognitif adalah berpusat pada respon dari individu tersebut, yang disaring dari situasi internal dan eksternal melalui struktur kognitif yang terdiri dari pemikiran, kepercayaan, sikap dan harapan. Struktur kognitif ini berbeda antara orang yang satu dengan yang lain dalam hal fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi.
Pendekatan Kognitif Bandura dalam tingkah laku
Di antara pemimpin yang memikirkan tentang kognitif adalah Bandura, yang bekerja secara luas merupakan gabungan dengan teori perkembangan belajar sosial dan kognitif behaviorism. Kontribusi utama dari Bandura terpusat pada kepercayaan atas pengaut (reinforce) dan penekanan (punishment) dalam situasi kehidupan nyata yang spesifik disekitar kita. Dia melihat perlunya jalan pengalaman langsung, keutamaan pembelajaran manusia dengan jalan observasi, atau lebih formalnya lagi dengan “modeling”. Dalam satu study, Bandura dan rekan kerjanya melihat anak bisa belajar untuk memperlihatkan perilaku agresif kearah sebuah boneka melalui film yang ditonton di TV, sebagian anak akan memukul boneka jika tidak dihentikan atau ditekan.  Penambahan untuk keagresifan, Bandura percaya dengan jalan obserfasi, orang belajar harapan, sikap, dan persepsi sosial dan disebut “kemampuan kognitif “yang secara konstan akan disimpan untuk digunakan dalam situssi yang sesuai. Cukup dalam basis yang tak terbilang gambaran hidup Western mungkin mengetahui bagaimana sebuah kaktus mendapatkan air dalam padang pasir, sebagian dari kita tidak mempelajari jalan ini secara langsung, dan tidak akan menguatkan pengetahuan.
Pada tambahan fokusnya keterlibatan aktif dalam tingkah laku yang didapatnya, teori kognitif juga menekankan pengharapan dan nilai-nilai subjektif dalam determinan tingkah laku..
Sebuah harapan yang mungkin diuraikan adalah kepercayaan bahwa jika seseorang bertindak atau merespon dengan cara tertentu, akan mendapatkan hasil sebuah masukan spesifik. Sebagai contoh, jika siswa percaya bahwa jika mereka belajar cukup keras mereka akan lulus dalam ujian, harapan ini mungkin akan memimpin mereka untuk belajar.
Sementara pengharapan diprediksi secara umum kemungkinan dari masukan yang spesifik dalam situasi tertentu, nilai-nilai determinan subjektif penting bagi individu dari hasil tertentu. Untuk siswa yang nilai prestasi akademiknya sangat tinggi dan menginginkan A, menerima B dapat membuatnya sangat susah. Pada situasi lain, bagi pelajar yang nilai akademiknya tidak mengalami kemajuan yang tinggi, nilai B akan sangat diterimanya.
Untuk teori kognitif, konsep seperti nilai pengharapan dan kontribusi penguat bagi individu untuk pola teladan tingkah laku mereka. Harapan nampak untuk memainkan peranan penting dalam determinasi dari apa yang orang lakukan. Nilai subjektif dari hasil yang dilibatkan dalam bagaimana kita merasakan tentang keadaan bahagia untuk kita. Keduanya terkait dengan jelas pada perilaku normal dan abnormal.
Teori Kognitif dan treatment pada perilaku abnormal
Secara umum, kognitif atau pembelajaran sosial memandang secara langsung untuk mengahadirkan peranan pengalaman sosial, modeling, kepercayaan, dan sikap dalam perkembangan, kematangan dan perubahan tingkah laku. Psikopatologi merupakan bentuk yang memandang dasar pada suatu kesalahan belajar social, maladaptive, dan kepercayaan. Perspektif ini memberikan pendekatan dasar dalam terapi kognitif, di antaranya rasional emotive therapy, modeling, dan modifikasi tingkah laku kobnitif.
Rational emotive therapy (Elies,1933), focus pada kepercayaan irrational yang menyebabkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan emosi yang menguap bukan dari pengalaman seseorang,tetapi bagaimana seseorang merasakan apa yang terjadi dengan dirinya.
Sejak kepercayan irrational dipandang sebagai inti masalah emosi, tujuan dari rational emotive therapy adalah membersihkan klient sepeerti kepercayaan bahwa klient bebas untuk mengisi kehidupan dengan emosi yang layak, dan mendorong klient untuk mengubah struktur kognitiv mereka.
Sementara Ellies focus pada kepercayaan irrational, therapist kognitif yang lain lebih focus pada asal myula kepercayaan, model yang cenderung mempengaruhi ide seseorang tentang dunia. Hal ini dapat digunakan untk membentuk pola yang benar.
Modeling focus pada tingkah laku yang dianggap sebagai proses mencontoh dari orang lain, kognitif behavior modification dikembangkan oleh Meircheambaum dan Beck yang secara langsung mereduksi peraturan buruk yang terkumpul dalam kepercayaan dan sikap.
Dalam pendekatannya, Beck  memerintahkan penjadwalan aktivitas, tugas kognitif khusus, dan variasi “emotional homework’ untuk membantu seseorang memperoleh pandangan rational yang lebih dalam kehidupannya dan sikap self-defeating yang ia percayai, mereka akan mengakui kejahatannya /kerugian yang ia dapatkan.

BEHAVIORISTIK
Behavioral merupakan penafsiran dari pandangan psikososial yang mempercayai pentingnya motivasi dari kekuatan internal atau insting atau kesadaran untuk memilih dengan bebas, tingkah laku merupakan pembelajaran dari keadaan yang kuat dil luar diri individu. Teori behavioral biasanya memahami perilaku abnormal yang diperoleh dari penguatan dari aturan yang sama yang mengurus semua tingkah laku. Psikopatologi mungkin memandang kesalahan belajar, atau tidak belajar, sesuai perbuatan dan pikiran.
Konsep Dasar dalam Perspektif Behavioral
Sejak proses belajar menjadi inti dari permasalahan tingkah laku, ketidakpahaman akan suatu aturan yang normal dan fenomena belajar terlihat sebagai suatu kebutuhan. Bentuk dasar belajar adalah calasical conditioning dan operan conditioning
Dengan  memahami penuh jalan classical conditioning dapat digunakan untuk membantu menjelaskan perilaku manusia, ini penting untuk memenuhi aspek umum dalam bentuk dasar pembelajaran. Ketetapan perkembangan respon klasikal conditioningdan prosedur untuk pengubahan kekuatan. Dalam tahap pertama disebut acquisition, pembangunan asosiasi antara CsS dan UCS, biasanya repetisi pada perangkat CS dan UCS yang lebih kuat adalah UCS, kekuatan yang diperoleh diasosiasikan. Tahap kedua extinction, di mana CS hadir tanpa UCS. Tidak lama CS segera mendapatkan CR dan pengkondisian respon menjadi padam. Tahap terakhir, spontaneous recovery, kehadiran yang ditambah dalam CR setelah extinction menjadikannya utuh dan berakhirnya waktu.
Tidak seperti classical conditioning, di mana respon ditimbulkan karena stimulus dari luar, pada operan conditioning, tipe pengeluaran respon dipengaruhi oleh penerimaan suatu reward atau punishment.
Fenomena dasar seperti reinforcement, acquisition, extinction, dan spontaneous recovery merypakan hal yang umum bagi keduanya classical dan operant conditioning. Tetapi metode dasar terhadap respon merupakan hal yang berbeda. Alat tradisional untuk mempelajari perilaku operant adalah kotak Skinner. Pengalaman yang didapatkan tikus merupakan hal yang  menyenangkan dengan meminum air yang tersedia dari gayung dalam box. Ketika penghalang ditekan, box akan membuka jalan kecil, ini membuat ketukan yang terdengar menjadi jelas. Tikus cenderung berorintasi pada bunyi, biasanya menyelidiki area sekitar ketukan dan berhasil mendapatkan sumber air. Saat ini peneliti dapat membuat bentuk prosedur kejadian menuju tujuan, dengan menekan pengikat logam merupakan selectively reinforcement untuk air dengan bunyi ketukan. Metode ini disebut succeisive approximation, awalnya tikus hanya melihat besi untuk menerima air, selanjutnya mungkin akan menyentuhnya, dan menekan untuk memperoleh air. Kita dapat mencatat hal ini sebagai komponen classical conditioning, karena waktu ketukan menimbukan bunyi diasosiasikan dengan air. Ketukan sebagai CS, dan setelah latihan awal ini dapat digunakan sebagai penguat dalam belajar selanjutnya. Jalan pengasosiasian dengan air merupakan sebuah primary reinforces, dan ketukan sebagai secondary reinforce.
Ketika didapatkan suatu respon dengan menekan besi, peneliti dapat mengubah perilaku tikus dengan memberikan variasi, seperti banyaknya air yang diberikan, waktu tanpa mendapatkan air, dan hal lain yang dianggap penting untuk mempelajari perilaku abnormal.
Intermittent reinforcement sebuah alternative untuk meneruskan reinforcement yang digunakan oleh Skinner karena telah lelah dengan penggunaan rewards yang sangat cepat dan mengurus penentuan reinforcement setiap ada respond an setelah ia mencatat efek reinforcement: kekuatan dan resistensi terhadap extinction yang didapatkandari respon yang bervariasi berdasarkan pada perbedaan jadwal reinforcement. Secara spesifik, extinction, tidak terjadi dengan mudah ketika ia terus mendapatkan reinforcement intermittently. Umumnya reinforcement lebih didekatkan pada dunia nyata karena jarang dalam realita untuk setiap respon yang diikuti dengan sebuah penguat.
Tidak hanya bentuk penjadwalan yang penting, tetapi konsep reinforcement atau reward . setiap objek memiliki objek studi yang luas dalam operant psikologi. Sebuah reinforcement mungkindidefenisikan dalam beberapa keadaan, ketika dihadirkan setelah tingkah laku, cenderung untuk menambah kemungkinan terjadinya tingkah laku itu. Thorduke mengusulkan law of effect, satu hal yang berpengaruh dalam konseptualisasi reinforcement.
Di samping pikiran untuk memuaskan keadaan, reward dapat juga dipandang sebagai drive reducing event. Dorongan ini mungkin mengurangi aspek biologi atau psikologi, dan pengalaman mereka yang direduksi akan diasosiasikan dengan menambah frekuensi perilaku.


Classical dan operant conditioning dan perilaku abnormal
Konsep conditioning, diskriminasi, dan generalisasi merupakan kekhususan yang penting dalam memahami pabnormal.aplikasi nyata dari konsep ini pada perkembangan ketakutan abnormal dari catatan behaviorist, John Watson.
Teori operant conditioning juga dapat menunjukkan contoh tingkah laku abnormal. Seperti, positive reinforcement dalam beberapa tingkah laku biasanya akan mendapatkan hasil yang meningkat. Orang tua  dapat menghargai anak untuk menarik diri dari sesuatu dan membentuknya menjadi “lones”. Mereka merespon anaknya hanya ketika mereka berhenti dari sesuatu atau melanggar suatu peran, orang tua mungkin tidak sadar telah menanamkan perilakuagresif. Dengan belajar dan memperhatikan kesedihan, tangisan, dan mengasihani diri frekuensi tingkahlaku depresif orang tua mungkin bertambah.
Dengan operant conditioning, dapat digunakan dalam menjelaskan pendapat pasti tentang tingkah laku abnormal. Ini bukti bahwa gabungan dari teori classical dan operant conditioning dapat memberi pengaruh perspektif dalam mempelajari sikap abnormal.
Treatment untuk pendekatan behavioral
Mempelajari kembali control dengan hati-hati penting untuk mengubah tingkah laku abnormal dalam perspektif teori belajar umumnya terbatas pada modifikasi tingkah laku atau behavior therapy. Dalam modifikasi tingkah laku, peranan tingkah laku merupakan aplikasi untuk perubahan sikap abnormal dalam merespon suatu. Pendekatan  tingkah laku disusun untuk meningkatkan frekuensi tingkah laku yang diinginkan dan mereduksi tingkah laku yang tidak diinginkan.
Meningkatkan frekuensi tingkah laku
 Terapi peningkatan frekuensi tingkah laku mungkin mengarahkan orang yang tidak dapat mengeluarkan ketakutan mereka. Tergantung pada kondisi yang ada, therapist akan memilih pendekatan yang berbeda.
Systematic desensitization, merupakan penyusunan pendekatan tingkah laku untuk meningkatkan frekuensi tingkah laku dengan mereduksi ketakutan yang diasosiasikan dengan pengeluaran mereka. Hal ini dapat mencegah terjadinya anxiety dan mengobati phobia.
Seperti system desensitization, implosive therapy juga diarahkan pada peningkatan frekunsi respon dengan jalan mereduksi ketakutan. Perbedaan utama dalam metode ini adalah pengadaan treatment hierarchy anxiety. Wolpe percaya bahwa dengan menimbulkan perlawanan terhadap anxiety dengan pelan merupakan hal yang baik, dengan memulai stimulus penakut terendah. Stampfl percaya bahwa pengalaman jelek seseorang merupakan ketakutannya yang akan berkurang. Ia memaksa kliennya untuk menampilkan ketakutannya, memikirkan yang tidak dapat dipikirkan, ia mulai dari bagaian teratas dari hierarki ketakutan.
Kedua pendekatan tersebut di atas, mungkin sebagai pilihan ketika seseorang merasa takut pada suatu objek atau situasi eksternal, tetapi tidak ketika frekuensi tingkah laku keduanya dikurangi untuk melihat malu atau keraguan interpersonal. Asserton traning dapat digunakan di mana klient dihadapkan dengan satu situasi yang mengharuskan mereka mempertahankan hak.metode ini dikembangkan oleh Salter yang mendorong orang untuk lebih menggunakan facial talk (mengkomunikasikan perasaan dengan menampakkan ekspresi dari kata-kata) dan feeling talk.
Mengurangi frekuensi tingkah laku
Abnormalitas tidak hanya melibatkan “sedikit” tingkah laku khusus, respon khusus terjadi sangan frekunsif. Contoh dalam kelompok ini mungkin termasuk konumsi alcohol, menggunakan obat, sex menyimpang, pencurian, halusinasi, anxiety,tekanan emosi, dan sakit kepala.
Satu metode tingkah laku yang luas penggunannya dalam mereduksi frekuensi tingkah laku adalah aversive therapy dengan memberikan stimulus yang berbahaya atau menyakitkan seperti electric shock yang diasosiasikan dengan pengeluaran respon yang tidak diinginkan. Dalam situasi yang kurang efektif, cara ini sulit untuk dilakukan, menuntut banyak perlengkapn dan memiliki masalah etika.
Menurut model ini, penyebab gangguan perilaku adalah proses belajar yang salah (faulty learning). Bentuk kesalahan belajar itu ada dua kemungkinan. Pertama,gagal mempelajari bentuk-bentuk perilaku atau kecakapan adaptif yang diperlukan dalam hidup.kegagalan ini dapat bersumber dari tidak ada kesempatan untkuk belajar, misal seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibunya, setelah dia dewasa ia bersifat  feminin, karena tidak pernah menemukan model untk mempelajari sifat-sifat lelaki. Akibatnya, ia selalu canggung dalam bergaul baik sesama maupun lawan jenis, bisa terjadi, kegagalan itu merupakan sejenis akibatnya tidak diinginkan dari suatu usaha untuk menanamkan sesuatu yang adaptif secara berlebihan, misalnya,pad kasus pria yang feminin diatas, sifat femininya itu akibat pengalaman dibesarkan dalam keluarga dengan ayah yang memiliki pandangan satu dalam menanamkan dan memberikan teladan tentang peran lelaki, sampai berdampak terbentuknya peran perempuan. Akibatnya anak ini menjadi feminin akibat simpati terhadap model perempuan yang tertindas serta penolakannya terhadap model lelaki ayah yang kasar dan angkuh
Kedua,mempelajari tingkah laku yang maladaptif, misalnya seorang anak yang sesudah dewasa cenderung agresif dan asosialkerna dibesarkan ditengah keluarga yang retak dengan ayah pemabuk dan senang memukul istri dan anak-anaknya.
Menurut model biheveristik, tingkah laku adaptif yang terlanjur terbentuk dapat dihilangkan dengan cara yang bersangkutan ditolong belajar menghilangkannya sekaligus mempelajari tingkah laku baru yang lebih menjamin kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan orang lain.    
   

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy