Minggu, 11 Maret 2012

0 Kemunduran bahasa- bahasa lokal




Perkembangan bahasa di lain sisi tidak terjadi pada di Negara Indonesia dan India, bahasa yang seharusnya otomi seperti bahasa daerah yang memiliki standar sendiri, hanya berfungsi menjadi bahasa status rendah (Ferguson, dalam Soepomo, 2004:84).

Di Indonesia contohnya, beberapa bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali mulai memprihatinkan. Bahasa yang memiliki bentuk standar ini mulai ditinggalkan oleh penuturnya, dan hanya digunakan dalam situasi atau topik yang tidak resmi. Bahasa ini juga semakin miskin dalam stuktur dan tata bahasanya. Beberapa bukti bahwa bahasa daerah telah ditinggalkan dapat tergambarkan dalam bahasa jawa berikut:

a.       Kemunduran Standar bahasa daerah
Masyarakat berbahasa Banyumas dan Jawa Timur mengganggap bahwa mereka memliki standar bahasa sendiri, yang tidak harus mengacu pada standar bahasa Jawa yaitu bahasa Jawa Solo- Yogyakarta.

b.      Kemunduran bentuk register
Penggunaan bahasa jawa atau tulisan kawi juga mengalami kemunduran, bahasa Jawa sudah tidak dipakai lagi dalam surat- surat, pengumuman umum, birokrasi lokal, dan iklan- iklan. Generasi muda masyarakat Jawa mulai melupakan menyampaikan bahasa ucapan tahun baru atau undangan dalam bahasa Jawa.

c.       Kemunduran tingkatan tutur
Dalam level kemunduran tingkatan tutur, generasi muda saat ini tidak mampu menggunakan sistem undak usuk bahasa Jawa. Sulit bagi generasi saat ini untuk memahami dan mengerti bahasa karma inggil dan karma andhap.



d.      Kemunduran jenis tuturan
Selanjutnya di sisi jenis tuturan, bahasa Jawa juga mengalami kemunduran. Generasi muda masyarakat Jawa saat ini tidak lagi menggunakan idiom atau kata- kata dalam bahasa Jawa. Selebihnya sulit bagi mereka untuk memahami sastra Jawa dalam puisi, lirik lagu, atau sastra dalam perwayangan.

e.       Kemunduran unsur- unsur bahasa
Dalam tataran fonologi, generasi masyarakat Jawa sekarang kesulitan untuk membedakan pengucapan /t/ dan /T/ atay /d/ dengan /S/. Dalam tataran morfologi, infiks –in dan –um sudah jarang di gunakan. Selain itu  juga, saat ini sangat jarang djumpai penggunaan kata kerja didepan. Unsur- unsure dalam bahasa Jawa juga mengalami kemunduran, seperti tidak dipakainnya lagi huruf kawi .

4. Perkembangan Pigin dan Kreol
Beberapa penelitian menunjukkan persamaan pemerolehan bahasa anak dengan perkembangan pidgin dan kreol. Kreol berkembang bersama anak yang lahir dimana pidgin digunakan oleh masyarakat dimana anak itu lahir.

a.       Proses Kreolisasi
Ketika pigin menjadi bahasa pertama anak, disinilah munculnya proses kreolisasi. Sebagai contoh kreolisasi di Haiti dimana anak anak lahir dianytra budak Afrika yang menghindari untuk berbicara bahasa dominan yaitu bahasa Prancis, dan di sisi lain bahasa Afrika juga tidak digunakan oleh masyarakat tersebut. bagaimanapun juga bentuk kreol yang lahir dari generasi ini masih tidak sempurna dan tidak standar.

b.      Proses Dekreolisasi
Kreol akan tetap menjadi kreol jika penggunannya memisahkan diri dari kelas yang dominan. Namun juga bisa mengalami proses dekreolisasi ketika penuturnya menggunakan dua bahasa sekaligus, yaitu bahasa kreol dan bahasa yang dominan dalam masyarakat tersebut. Bickerton memberikan gambaran Bahasa Inggris- Guyana dimana kreol dibagi mnejadi tiga lever, yaitu acreolect, yaitu kreol yang hampir sama dengan bahasa standar, yang digunakan oleh masyarakat berpendidikan. Basilect adalah kreol yang sangat berbeda dengan bahsa standard dan digunakan oleh oran gyang tidak berpendidikan, dan mesolect, kreol diantara basilect dan acreolect.
Contoh lain dari dekreolaisasi adalah bahasa Tok Pisin yang berkembang dari pidgin Inggris di Papua New Guinea. Bahasa Tok Pisin dijadikan bahasa standar di Papua New Guinea dan mengalami perkembangan yang sangat cepat

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy