Selasa, 13 Maret 2012

0 etika-ethos

etika-ethos: generasi e
Oleh: Andias Harefa*


Apa yang "hilang" dari dunia kerja selama beberapa dekade sebelumnya, dan yang kemudian nampaknya "ditemukan kembali" oleh enfantrepreneur, yakni generasi pengganti Steve Jobs, Steve Wozniak, Bill Gates, Paul Allen, Andrew Grove, Tim Berners-Lee, dan entrepreneurdotcom senior yang berusia 40 tahun ke atas? Apa sebetulnya yang "ditemukan" remaja-remaja badupulta (bawah 20 tahun) yang mengidolakan Michael Dell (Dell Computer), Jeff Bezos (Amazon), Ted Waitt (Gateway), Piere Omidyar (eBay), David Filo dan Jerry Yang (Yahoo), yang semuanya terkenal, kaya raya, dan 'sukses' sebelum usia 40 tahun? 

Mengapa mereka tak lagi percaya pada ajaran kuno seperti, "Sekolah yang rajin. Dapatkan ranking terbaik. Masuk universitas terbaik dan berjuanglah untuk lulus dengan IP tinggi. Maka kelak akan mendapatkan kerja dengan gaji dan fasilitas terbaik dari perusahaan-perusahaan multinasional terkemuka", atau nasihat yang senada dengan itu? Mengapa sebagian di antara mereka secara ekstrem menganggap "sekolah" cuma buang-buang waktu dan sama sekali tidak menarik, sehingga mencemaskan para orangtua mereka--khususnya kaum kelas menengah yang merupakan produk dunia persekolahan sampai 3-4 dekade yang lalu? Mengapa Antonio Borges, Dekan sekolah bisnis INSEAD itu, mengatakan bahwa, "Thirty years ago MBA students dreamed of running General Motors; ten years ago they dreamed of working at Goldman Sachs; five years ago it was McKinsey. Now they dream about running their own company"?

Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas baiklah diingat bahwa generasi yang lahir setelah tahun 80-an adalah generasi yang menatap dunia dengan mata yang sama sekali berbeda dengan Cohort sebelumnya. Mereka lebih 'realistis' dalam menghadapi realitas bahwa persekolahan, termasuk sekolah-sekolah bisnis paling terkemuka sekalipun, bukanlah jalan satu-satunya menuju cita-cita mereka. "Sekolah" yang lebih "real" adalah "sekolah besar kehidupan" dan bukan sebuah gedung jauh dari rumah yang lebih mirip "penjara" dengan "sipir-sipir" yang kebanyakan sok tahu. Mereka amat pandai "belajar-tanpa-sekolah", karena tahu mengakses sumber-sumber informasi dari berbagai belahan dunia yang sudah menanti di ujung jarinya. Kalau "sekolah baru" yang banyak menampung enfantrepreneur ini harus diberi nama, maka mungkin salah satu namanya adalah click-business-school. Atau virtual-school-of-life. Atau ... terserahlah. Namakan saja sesuka Anda. Yang jelas, bagi mereka yang dapat berkata "ku-tahu-yang-ku-mau" maka soal akses pengetahuan yang diinginkan tinggal "klik-saja-langsung".

Bagi Cohort 80-an ini, tidak terlalu jelas bedanya antara "bermain" dan "bekerja", antara "hobi" dan "mencari nafkah". Tanya saja pada ABG-ABG seperti Adi Mulianto Mulia yang diusia 13-an tahun sudah punya toko virtual indomall.od.id. Atau pada Wiro Hardy dan Korpin yang punya toko datakencana.com saat belum lulus sarjana. Mereka ini harus disebut "pelajar", "mahasiswa", atau "wirausahadotcom"? Mungkin semuanya.

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan awal tadi, apa yang "ditemukan" generasi baru yang menghuni, meminjam istilah Piliang, "sebuah dunia yang dilipat" itu? Hemat saya ini: the joy of work, excitement, energy, enthusiasm, and spirit (untuk mudahnya disingkat the JEEES). Mereka menemukan kembali kesenangan, kegembiraan, kegairahan, energi dan semangat dalam bekerja. Inilah hal-hal penting yang "hilang" dari dalam diri angkatan kerja Cohort 50-60-70-an. Secara agak khusus the JEEES ini mengalami erosi tajam ketika segala proses berawalan "re" --rethinking, reengineering, reinventing, repositioning, reforming, dan lainnya-- mulai tahun 80-an. Semua wacana itu "sukses" menyebarkan rasa takut ke seluruh penjuru bumi. Rasa aman dalam arti job security, terkikis arus deras perubahan global yang ganas menyerbu kawasan-kawasan "lokal".

Kehilangan "pekerjaan" telah menjadi hantu yang membunuh motivasi kerja sebagian besar karyawan. Dan di Indonesia hal itu diperparah dan diakselerasi oleh krisis multidimensional yang meruntuhkan konglomerasi Orde Baru diikuti oleh pembubaran beberapa departemen pemerintah yang membuat puluhan ribu karyawan swasta dan pegawai negeri kehilangan "pekerjaannya".

Jadi, pada satu sisi kita menyaksikan "matinya" angkatan kerja lama, dan bersamaan dengan itu "lahirnya" angkatan kerja baru. Dapat dikatakan bahwa semua itu bagai pertanda runtuhnya kubu pro status quo dan bangkitnya kubu reformis yang sama sekali baru. Barisan bermental pegawai yang biasa disebut "employee" digantikan dengan barisan anak-anak muda yang sambil "bermain" menyatakan kehadirannya sebagai "entrepreneur". Dan berbeda dengan barisan "employee" yang penakut, kurang inisiatif, dan enggan mandiri, barisan anak muda "entrepreneur" ini sangat berani, penuh inisiatif, dan mandiri. Mereka tidak suka menunggu "petunjuk Bapak Presiden", tetapi berkiprah langsung dalam e-world yang tanpa batas itu. Mereka tidak menunggu kredit untuk usaha kecil-menengah yang banyak diselewengkan ke kantong-kantong "konsultan" UKM dan birokrat bermental Orde Baru, tetapi langsung menawarkan Bika Ambon buatan Medan ke Singapura dan Malaysia. Ekspor kerajinan dari bahan kertas bekas oleh seorang mahasiswi dari Fakultas Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, adalah sekadar contoh kecil dari kiprah generasi-entrepreneur Cohort 80-an. Konsumennya sampai ke Eropa, Amerika, dan Australia.

Salah satu hal dasar yang membuat generasi-entrepreneur ini berbeda dengan generasi sebelumnya adalah cara mereka memahami pekerjaan dan membangun "job security" model baru. Mereka mengerjakan tugasnya sebagai hobi sekaligus nafkah hidup. Mereka "bermain" sambil "bekerja". Rasa aman mereka tumbuhkan dari dalam dirinya, dan bukan digantungkan pada "perusahaan", apalagi "pemerintah".

Menatap arah desentralisasi dan otonomi daerah dari perspektif generasi-entrepreneur di atas, kita boleh berharap bahwa perekonomian Indonesia tidak akan hancur seperti yang sering diutarakan para pakar dadakan akhir-akhir ini. Bahkan kita dapat mengatakan bahwa para pakar akan banyak membuat prediksi yang keliru karena mereka sendiri adalah generasi-employee yang selama beberapa dekade menggerogoti ekonomi Indonesia dengan logika-logikanya yang "baku", bahkan "kaku". Paling tidak itulah pendirian saya saat ini.

Benarkah demikian?

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy