Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

0 Kartu Pos dari Surga


Cerpen Agus Noor

MOBIL jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” 
teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. 
Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi,
ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? 
Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, 
barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. 
Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? 
Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…Bibiiikkk…” 
Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. 
Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.
“Ada apa, Non?”
“Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”
Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku.
Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, 
seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.
***
MARWAN hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Sekarang, setiap pulang, 
Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah.
“Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu.
Ia masih belum genap 6 tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya,
“Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater ke mari…”
Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti 
mengarang-ngarang jawaban.
Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. 
Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan, kadang meledek istrinya, 
“Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru playgroup,
Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya handphone, 
agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
“Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”
Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, 
Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. 
Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah.
Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, 
dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, 
Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. 
Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. 
“Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. 
Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. 
Marwan ingat, bagaimana semasa mereka pacara, Ren bercerita dengan suara penuh kenangan, 
“Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk dipangkuan, 
sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi.
“Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.
” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang jadul
Aku hanya ingin beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu:
pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang
disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!
***
KETUKAN di pintu membuat Marwan bangkit, dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu.
Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. 
Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
“Nggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”
Marwan menggandeng anaknya masuk.
“Besok Papa bisa anter Beningnya nggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
“Nganter ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
“Kemana?”
“Ke rumah Pak Pos…”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.
“Kalu emang Pak Posnya sakit, biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”
Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. 
Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. 
Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. 
Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. 
Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat.
Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding gua. Bukit karang yang menjulang.
Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, 
kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. 
Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. 

Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,
“Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, 
yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah.
Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip.
Pasti mereka menduga ia dan Ita…
“Atau kamu bisa saja tulis katu pos buat dia. Seolah-oleh itu dari Ren..”
Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.
***
MOBIL jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun.
Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat
menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat
Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim.
Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, 
kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.
“Wah, udah datang ya kartu posnya?”
Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.
“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…”
Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak, dan berlari ke kamarnya. 
Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barankali memang harus berterus terang. 
Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? 
Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah.
Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. 
Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. 
Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya, 
ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut, dan mayatnya tak pernah ditemukan.
***
KETUKAN gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Duabelas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
“Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.
“Beningnya…”
Terburu Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. 
Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu.
Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang
, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding.
Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai
. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
“Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka.
Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. 
Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran, dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.
“Buka Beningnya! Cepat buka!”
Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap, dan pintu terbuka. 
Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. 
Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang beserakan.
“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “Kata Mama tukang posnya emang sakit, 
jadi Mama mesti ngater kartu posnya sendiri…”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. 
Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.

Jumat, 08 Juli 2011

0 Pelacur dalam syahadat


Posting cerpen by: Ricky Luck


Hujan adalah sebuah reinkarnasi perjalanan air, dengan kelahirannya kembali kepada bumi setelah lelah jelajahi laut dan mangkat  pada angkasa luas. Perlahan  aku terus menatap lurus bayi-bayi air yang jatuhnya tepat pada sebuah aliran, dan langsung kearah saluran pembuangan. Dalam senyum simpul aku pertanyakan, apakah air yang kearah tersebut akan menangis?. Karena sedetik saja dia bersorak dengan suara kecilnya yang membentur tanah, dia kembali pada kotornya air kencing, limbah sampah dan kotor-kotor lain-nya.

Malam semakin kelam, sejenak aku teringat pada sosok dirimu tempat dimana semua penasaran-ku berlabuh. Kau terbalut kain berwarna merah saat itu. Menghisap dalam rokok yang terbakar dan terselip pada jari sempurna.Tepat di tempat aku berdiri aku melihat kearahmu dan berpikir, "Sempurna-mu akan lebis manis bagiku bila saja kau bukan 'pelacur'."

Tapi sumpah aku merasa kau berbeda karena aku melihatmu terus selama ini. Kurasa kau tidak akan tau, karena aku berbaur dan menyusup pada penghuni halte lain-nya. Hingga suatu hari aku berterima kasih pada hujan yang membuat halte ini tidak lagi dalam penuh orang-orang yang "nongkrong" dan duduk tidak jelas. Karena dalam situasi hujan, orang akan langsung pergi tanpa banyak bincang. Dan disitulah suara cuekmu menegurku dalam kerasnya suara hujan.

"Permisiii, Mas aku boleh pinjem korek?"

Aku terkejut pada hadirmu, tapi yang membuatku tertegun lama sebelum akhirnya menjawab adalah lebih kepada aroma tubuhmu yang tidak biasa. Untung aku seorang manusia kalo saja aku ini herder pasti sudah kugigit betisnya sambil 'meng-kaing' pergi.

"Oh.., Silakan Mbak." aku lalu menyodorkan korek dengan merk tiga duren dan seperti bangsawan memberikan hadiah, aku serahkan pada dirinya sambil berkata, "Korek-nya tradisional tapi Mba."

"Ga apa-apa.", Sambil mengambil korek dari tanganku diapun tersenyum. Setelah selesai membakar dia menatapku dan berkata. "Ko kamu ga langsung naik bis Mas?" Apa ada yang ditunggu nih jangan-jangan. Oh biar akrab,... Merry." Kata dia serabutan bicara dan berondong kata-kata ditutup dengan menyodorkan tangan ajak kenalan.

"Dino,... Aku nggak tunggu siapa-siapa ko, cuman aja sedikit males cepat pulang, soalnya sampe kosan paling, ga ada kerjaan." Kataku membalas perkenalan dan pertanyaan-nya.

"Bukannya bagus dikosan kan kamu bisa ngobrol atau main dengan sama anak kosan lain."

"Ngobrol apa Mba yang ada tidur, maklum kosan saya rata-rata pekerja semua." Lingkungan kosan-ku emang sedikit suram. Aku bayangkan rata-rata dari mereka sibuk dalam kegiatan ruang  '6 x 4 meter'-nya . Kalo ga kegiatan kumpul kebo ya kegiatan game on-line yang aku kurang ngerti dibidang itu.

"Tapi kalo udah kerja kan asik ada uang untuk menghibur diri sendiri" sambil menatap Merry terus berucap.

"Uang gajiku pas buat sebulan Mba."Aku singkat aja menjawab.

Lalu dia menjawab dengan sedkit menghibur, entahlah..."Yaaa, sabar Mas ntar kan lama-lama naek pangkat."

"Mbaa..kalo naek pangkat sih sering yang aku harapkan dari pekerjaanku tuh naek gaji, ha ha ha.." Aku geli sendiri mendengar jawaban ironi dariku. Ya dijaman sulit seperti sekarang, sedikit banyak pangkat tidak menjamin kehidupan. Karena perusahaan juga mengencangkan ikat pinggang-nya.

Diapun tertawa dengan pelan,"Ha ha..,Kamu ternyata bisa lucu juga aku pikir selama ini kamu tipe yang serius. Tatapan dia akhirnya lurus dan dalam padaku.

Astaga apa coba maksudnya?, selama ini,...aku pikir,.. wah wah berarti dia memperhatikanku selama ini. Akupun merasa darah menaik pada kepala dan semukan muka-ku semerah kepiting yang direbus.

Merry seakan bisa membaca jalan pikiranku dan kembali berkata, "Dino aku selalu melihatmu halte ini tidak akan mengalihkan pandanganku kepadamu. Karena walau banyak orang disini, wajahmu yang terlihat sepi dan tanpa kawan sangat menarik perhatianku."

Seakan tidak mau kalah aku membalas perhatian yang ternyata dia hadiahkan padaku, akupun berterus terang. "Merry aku juga selalu melihatmu, kau manis.", Aku hanya bisa mampu berucap sampai situ karena tidak mungkin aku sampai hati melanjutkan bahwa dirinya manis dalam pelacuran-nya.

Malam semakin larut, aku terus berbincang dalam situasi yang menghangat. Tanpa terasa perahu kesunyian sudah jauh ditengah lautan malam. Dalam keadaan seperti ini tidak tega aku meninggalkan Merry dalam sendiri betapapun dia adalah seorang penghibur. Tapi yang lebih gawat lagi kalau lebih dari ini perjalananku sendiri mungkin akan berbahaya dan lebih mahal mengingat aku harus naik ojek menembus kedalaman tempat aku ngekos.

"Merry kamu sampai kapan disini?", Aku bertanya untuk menandakan bahwa pertunjukan sudah ditutup dan bersiap berdiri dari bangku dan siap melangkah pulang.

"Dino,.. kamu mau aku antar?", sebuah pernyataan dan penawaran yang membuatku bengong sesaat.

"Ayu ikut." Dia melangkah tanpa memberi kesempatan aku bengong lebih lama.

Aku mengekor dalam diam dan bertanya dalam hati, sampai aku tiba pada pelataran parkir dari sebuah mall yang buka 24 jam. Diapun merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah remote mobil. 'twit,..twit' wah-wah gaya pikirku dalam hati.

"Ayo masuk" kata Merry melihat aku tepekur dan bimbang. Akupun membuka pintu mobil corrola warna hitam dan mendudukan diri pada bangku nyaman yang bersih. Dibanding bangku plastik patas jelas ini lebih bersih.

Mobilpun meluncur dan mengarungi jalanan, dalam perjalanan Merry bercerita tentang dirinya yang membuatku mengambil sebuah langkah fatal yang indah.

"Dino aku tau kamu pasti bingung, aku juga tau kalo kamu pasti sudah tau siapa aku sebenarnya." Aku tidak menjawab dan diam. Merry-pun melanjutkan. "Ayah kandungku sudah lama wafat, ibu menikah lagi tidak lama kemudian. Tapi sayang 5 tahun berlalu Beliau menyusul Ayah. Tinggal aku dan ayah tiriku. Dan kau tahu Dino jarak 3 bulan Ibu meninggal, Ayah tiriku memperkosa diriku." Aku kaget sekali mendengar kalimat lurus meluncur mulus pada kata-katanya. Aku tidak bisa bereaksi pada kata-kata yang dia ucapkan. Ayah tiriku adalah seorang pengusaha sukses Dino. Dia memang menyesal melakukan itu padaku. Tapi tindakan dia tidak mungkin hanya selesai sampai disitu. Aku dalam keadaan tidak tahu harus bagaimana. Aku lemah Dino Ayah sebatang kara dan Ibu entah dimana keluarganya, karena Ibu pernikaha ibu dengan Ayah adalah kawin lari.

Aku terus diam setelah dia lama mengakhiri kata-katanya. Akhirnya setelah yakin dia selesai akupun berucap.

"Kenapa Merry?, Ko kamu cerita ini semua sama aku?"

Merry hanya diam dan baru setelah itu tiba-tiba dia menyisi.

"Aku tidak pernah punya tempat untuk aku bicara Dino, aku tidak bisa bicara pada pelangganku tempat aku melampiaskan gundah, tidak bisa bicara kepada sesama profesi karena mereka menganggap aku tidak layak berada ditempat mereka." Merry akhirnya meledakan tangisnya.

Aku menjamah kepalanya dan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku bisa merasakan kesedihan yang teramat sangat pada hidupnya.

"Dino aku sakit,  aku mungkin tidak akan ada lagi pada 3-4 tahun kedepan. Kau tau Dino aku terkena HIV."

Astaga aku kaget setengah mati. Tapi entah aku tidak melepaskan pelukanku.

"Kau tidak melepas pelukmu Dino?" nada pertanyaan diungkap olehmu.

"Tidak Merry aku tidak akan melepasnya, tapi ijinkan aku memberimu cinta yang tak pernah kau rasa."

Merry menjauh dan menatap heran.

"Kau tidak perlu seperti itu sehari jujur padamu membuatku sangat bahagia jangan beri aku lebih" Tangis Merry semakin kencang dan dia mulai berteriak.

Aku kembali memeluknya dan berkata. "Ijinkan aku membuat rumah disurga dengan membantu mencintaimu dan merawatmu."

"Aku,..Aku,.."

"sudah diam" Aku memeluknya semakin erat.

Kemudian setelah hari itu berlalu, akupun tenggelam dalam kehidupanku bersama Merry. Aku ajak Merry meninggalkan rumah mewah yang menurutku lebih pantas disebut lingkungan tempat setan bertahta.

Dia menyewa kamar kecil tepat disebelahku dan meninggalkan dunia lamanya. Merry membuatku terharu pada tingkahnya yang haus akan pertobatan. Sungguh tidak kuasa aku menangis ketika dia mengganti bajunya dengan jilbab. Dan hari demi hari dia mulai lancar mengaji.

Yah itu adalah kisah yang menurutku indah sekarang aku sudah jauh dari Merry dan bekerja diluar negri. Hari ini adalah tepat 5 tahun kepergian Merry. Aku baru dari pulang jiarah pada makamnya, dan mampir pada tempat pertemuan kami.

Merry aku yakin jawabnya ketika aku mendengar kau bertanya,

"Layakah aku Dino pada sisinya?"

Aku yakin dan menjawab padanya saat itu.

"Aku yakin seperti janji Allah pada hambanya yang mengucap dua kalimat Syahadat sebelum dia pergi jauh.

Kaupun mengucapkannya dan diam dalam senyum.

0 GAUN PENGANTIN DALAM MIMPI

 Posting cerpen by: Stephany Silvana Sompotan

Aku tidak tahu kekuatan apa yang aku miliki ini. Sejak aku beranjak SMA ada yang berbeda denganku. Aku takut untuk memberitahukan ini pada orang lain, dan baru sekarang aku berani untuk mengatakannya. Setiap kali aku tidur pasti akan bermimpi. Ada mimpi yang masih diingat, tapi ada mimpi yang susah untuk diingat. Aku memulai petualangan mimpiku yang aneh. Saat ku terlelap dalam tidurku aku bermimpi sedang berada dalam suatu acara pesta besar, dimana tanteku dengan cantiknya duduk diatas singgasana memakai gaun putih panjang dengan motif bunga keperakan seperti orang yang mau nikah. Sejenak aku mengikuti pestanya, dan tak lama kemudian alarm-ku berbunyi. Sudah saatnya aku bangun.                Aku  menceritakan hal itu pada mama, tapi tak direpon dan aku pun hanya mendiamkan hal itu. Keesokan harinya aku mendapat kabar dari mama kalau tante Rina meninggal akibat kecelakaan motor. Oh God, tak salah lagi tante Rina-lah yang kumimpikan saat itu. Aku belum merasa ada yang aneh dengan keadaan itu,,tapi mungkin saja itu satu pertanda tapi tak ku gubris.                Berikutnya dengan keadaan yang sama, aku bermimpi di suatu malam, disebuah pesta besar seorang anak kecil berusia kurang lebih 3 tahun, menggunakan gaun pengantin, dan dalam mimpiku aku tertawa..Masih kecil kok sudah mau kawin. Hal yang sama pun terjadi, aku mendengar kabar kalau anak kecil yang kumimpikan itu sudah meninggal akibat sakit yang dialaminya, dan tak lain adalah anak temanku.                Berikutnya lagi beberapa bulan kemudian sejak peristiwa itu aku bermimpi yang sama, dan terjadi kejadian yang sama, sepupuku yang kumimpikan meninggal karena dibunuh orang.                Tiga kali kejadian yang sama membuatku berpikir lebih dalam lagi dan aku menarik kesimpulan bahwa semua yang kumimpikan menggunakan gaun pengantin akan meninggal entah dengan cara apa saja, dan semuanya itu tak dapat kucegah, karena aku tak tahu mereka akan meninggal dengan cara apa dan aku sangat menyesali ini.     Sungguh aku menyesali semua ini dan tak ingin bermimpi ini lagi yang sangat membuatku takut..Sampai aku masuk perguruan tinggi aku sudah jarang bermimpi aneh seperti itu. Aku menceritakan hal ini pada sahabat-sahabatku dan  mereka begitu cepat merespon.                “Nina, kalo kamu mimpiin aku yang pake gaun pengantin tolong ya kasih tahu sama aku..Sekalipun kita sudah selesai kuliah kamu harus tetap ngabarin aku. Aku takut dengan ceritamu dan aku tahu apa yang kau lihat dalam mimpi itu akan menjadi kenyataan yang pahit..”Sahut Gaby dengan wajah takutnya.                “Iya, aku juga tak tahu mau menolak ini atau tidak, aku selalu takut akan hal ini tapi aku harus menjalani ini. “                “Iya Nin, aku juga ya,kalo mimpiin aku kasih tahu sama aku….”kata Iren menyela pembicaraan Nina                “Iya teman-teman aku akan mengabari kalian..tenang saja jangan terlalu panik begitu….”*************************                3 Bulan semenjak masuk Universitas aku sudah jarang bermimpi aneh, aku senang dengan keadaan ini. Tapi semuanya hanya sementara saja, aku mengalami hal itu lagi  di malam sehari sebelum Hari Ulang Tahunku.. dalam mimpiku, aku hadir dalam pesta pernikahan temanku Gaby. Gaby begitu cantik dengan balutan kebaya modern berwarna gading. Aku begitu senang dengan keadaan ini, terbawa dengan kesenangan sampai-sampai aku tidak berpikir lagi jika aku bermimpi seperti itu akan terjadi sesuatu. Dalam suasana senang itu aku sempat berbicara dengan temanku Gaby.                “Gab, selamat ya, cepat banget kamu nikah…kamu 1000 km dari kami..”                “Nggak Nin, aku bukan 1000 km dari kamu, tapi kita sama-sama 1000 km dari Iren dan Nana..”                “Ngaco kamu Gab, jangan bercanda..”                “Nin, kita kan bikin pesta berdua, masa lupa.. Kamu cantik banget dengan gaun pengantinmu itu. Modelnya Gothic  ya??keren Nin…Tapi Randy kok belum datang juga ya, acaranya khan sudah mau mulai..”                Aku begitu terkejut mendengar kata-kata Gaby. Yang benar aku nikah sama Randy barengan Gaby.?Aku memandang pakaikanku yang agak berbeda dengan Gaby. Seketika itu juga aku mulai mencoba menyadarkan diri dari tidur. Aku harus bangun, aku harus bangun…….dan aku terbangun pukul 03.00 dini hari memasuki hari yang baru dimana aku berumur 17 tahun. Aku memang yang paling muda diantara kami berempat tapi cukup lebih besar dari temanku Iren dan Nana.                Tak bisa kubayangkan bermimpi seperti itu dan dalam mimpiku aku dan Gaby berbalut gaun pengantin, siapa yang harus behati-hati dan siapa yang akan terlebih dulu dijemput ajal aku tidak tahu. Aku tidak mau baik aku atau Gaby yang mengalaminya, aku berharap ini hanya kesalahan dan tidak akan terjadi lagi, karena sudah lama berlalu sejak peristiwa kemarin dan ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku percaya pada Tuhan dan ini tidak akan terjadi.                “Happy Birthday Nina,,selamat ulang tahun ya…”sahabat-sahabatku memberi pelukan padaku.                “Makasih ya ucapannya…”aku mencoba tersenyum pada mereka                “Terus traktirannya dimana nich..?”sahut Gaby                “Dimana saja terserah kalian,…”                “Ehmmmm,,,kalo begitu Chinesse Food aja ya…”sahut Iren,,,                “Ok….”Sahutku sambil berjalan bersama mereka menuju ke rumah makan Chinesse Food di pusat kota..Dalam perjalanan bersama mereka aku tetap mencoba tenang tidak mengingat –ingat kejadian dalam mimpiku..                “Nina, kok kamu diam saja, bicara hanya sebatasnya, ini khan hari ulangtahunmu…ceria donk Nina..”Gaby mencubiti pipiku”Atau jangan-jangan karena Randy nggak bisa datang ya??”                “Sebentar lagi dia datang, katanya masih ada mata kuliah. “                “Huh dasar Randy, lebih mentingin kuliah daripada pacarnya..”kata Iren sewot                “Nggak papa kok, lagian mata kuliahnya penting banget nggak boleh bolos..”sahutku membela Randy                “memang nih anak kalo dah cinta dibelain terus..khan baru jadian jadi benih-benih cinta semakin bersemi..”Kata Nana temanku yang dari tadi diam                “Ah biasa aja,…..”sahutku sambil senyum…                Satu jam kami makan dan ngobrol bareng, Randy pacarku tiba-tiba menelponku, dan menyuruhku keluar sebentar menuju ke jalan raya didepan, dari seberang aku sudah bisa melihatnya, dia memegang setangkai bunga mawar membawa kue tart dengan angka 17 diatasnya dan sekaligus membawa beberapa orang yang sedang memainkan gitar. Sungguh sesuatu yang indah dan romantic yang baru kurasakan sekarang. Aku tersenyum sendiri, teman-temanku yang melihatnya tersenyum manis…Randy melambaikan tangannya, aku mencoba berjalan menelusuri parkiran didepan rumah makan dan melintasi jalan yang ada didepan. Jalanan yang begitu ramai dengan kendaraan bermotor dan para pejalan kaki. Saat lampu merah menyala, aku pun langsung menyeberang jalan melewati zebra cross , tapi tak disangka dari arah kananku sebuah sepeda motor Kawasaki niinja dengan pengedara seorang cowok berpakaian hitam melaju kencang dan .AAAARRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHH……..BRUKKKKKKKKK……Hidupku berakhir disini….THE END

Senin, 04 Juli 2011

0 Besok Tidak Pernah Kembali




Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!
***
Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku




Sumber...
 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy