Minggu, 10 Maret 2013

0 PENDIDIKAN KESEHATAN

PENDIDIKAN KESEHATAN
Batasan
PENDIDIKAN:
INPUT - PROSES -OUT PUT

 
Segala upaya yang direncakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.


INPUT             : sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat), pendidik.
PROSES          : upaya yang direncakan untuk mempengaruhi orang lain
OUT PUT        : melakukan apa yang diharapkan/perilaku

PENDIDIKAN KESEHATAN:
  • merupakan bagian dari keseluruhan upaya kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) yang menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku hidup sehat.
  •  Adalah upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsikan perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberi informasi, memberi kesadaran dan sebagainya.
  • Upaya agara perilaku individu, kelompok dan masyarakat mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
  • Secara konsep: penkes merupakan upaya mempengaruhi/mengajak orang lain (individu, keompok, masyarakat) agar berperilaku hidup sehat.
  • Secara operasional: penkes adalah semua kegiatan untuk memberikan/ meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek masyarakat dalam memelihara dan meingkatkan kesehatannya.

(Blum, 1974) mengatakan bahwa status kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor, berdasarkan hirarkinya adalah sebagai berikut:
  1. lingkungan (fisik, sosial, budaya)
  2. perilaku
  3. pelayanan kesehatan
  4. herediter
Pendidikan kesehatan merupakan bentuk intervensi utama terhadap perilaku, akan tetapi 3 faktor yang lain juga memerlukan intervensi pendidikan kesehatan.

OUT PUT pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif.

Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan:
  1. Pendidikan kesehatan pada aspek promotif
  2. Pendidikan kesehatan pada aspek preventif
  3. Pendidikan kesehatan pada aspek kuratif
  4. Pendidikan kesehatan pada aspek rehabilitatif.

Tempat Pelaksanaan :
  1. Pendidikan kesehatan pada keluarga
  2. Pendidikan kesehatan pada sekolah
  3. Pendidikan kesehatan pada tempat kerja
  4. Pendidikan kesehatan pada tempat umum
  5. Pendidikan kesehatan pada instansi pelayanan kesehatan.

Metode Pendidikan Kesehatan
  1. individual
    1. bimbingan dan konseling
    2. wawancara
  2. kelompok
    1. kelompok besar: kegiatan cermah dan seminar
    2. kelompok kecil: diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, kelompok2 kecil, bermain peran (role play), simulasi, dsb.
  3. massa
    1. ceramah umum
    2. pidato
    3. media (elektronik, cetak dan out door)



Media
Media pendidikan adalah alat (saluran) yang digunakan untuk penyampaian pesan. Manusia menggunakan indra untuk berinteraksi dengan lingkungannya sehingga untuk mempengaruhi interaksi tersebut digunakanlah berbagai media. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima suatu pesan maka akan semakin mudah pesan itu diterima/dipahami.
 


 



 
Dari kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan paling bawah adalah benda asli dan yang palinga atas adalah kata-kata. Hal ini berarti dalamproses pendidikan, benda asli memiliki intensitas yang paling kuat/besar untuk mempersepsikan pesan yang disampaikan.
Jenis media yang sering digunakan:
a.    media cetak
booklet, leaftlet, flyer (selebaran), flip chart (lembar balik), rubrik, poster, foto, spanduk, umbul-umbul.
b.    media elektronik
TV, radio, video, slide, film strip, dll
c.    media papan (billboard)
poster, pamplet, baleho, dll
d.    media peraga
alat tiruan seperti pantom, boneka, dami, dan instrumen lainnya. Atau benda asli.
Analisis Perilaku Kesehatan
Pengkajian
Sebelum pendidikan kesehatan diberikan, lebih dulu dilakukan pengkajian/analisis terhadap kebutuhan pendidikan dengan mendiagnosis penyebab masalah kesehatan yang terjadi. Hal ini dilakukan dengan melihat faktor2 yang mempengaruhi perilaku kes.
Lawrence Green (1980), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor:
  1. faktor pendukung (predisposing factors), mencakup:
pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial ekonomi, dsb.
  1. faktor pemungkin(enambling factors), mencakup:
fasilitas kesehatan, mis: spal, air bersih, pembuangan sampah, mck, makanan bergizi, dsb. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, rs, posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dsb.
  1. faktor penguat (reinforcing factors), mencakup:
sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kes. Kebijakan/peraturan/UU, LSM.

Informasi tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan :
  1. Observasi
  2. Wawancara
  3. Angket/quesioner
  4. Dokumentasi

Jenis informasi yang diperlukan dalam pengkajian antara lain:
  1. pentingnya masalah bagi individu, kelompok dan masyarakat yang dibantu
  2. masalah lain yang kita lihat
  3. masalah yang dilihat oleh petugas lain
  4. jumlah orang yang mempunyai masalah ini
  5. kebiasaan yang dapat menimbulkan masalah
  6. alasan yang ada bagi munculnya masalah  tersebut
  7. penyebab lain dari masalah tersebut.

Tujuan pengkajian
  1. Untuk mengetahui besar, parah dan bahayanya masalah yang dirasakan.
  2. Menentukan langkah tepat untuk mengatasi masalah.
Memahami masalah
  1. Mengapa muncul masalah
  2. Siapa yang akan memecahkan masalah dan siapa yang perlu dilibatkan
  3. Jenis bantuan yang akan diberikan
Perencanaan Pengajaran
Langakah-langkah Membuat SAP dan Perencanaan Pengajaran
GBPP:
Merupakan rumusan tujuan dan pokok-pokok isi pendidikan. Di dalamnya tertulis komponen-komponen sebagai berikut:
1.    Tujuan Instruksional Umum (TIU)
TIU atau tujuan akhir : berisi kompetensi umum yang diharapkan dapat dikuasi, didemonstrasikan, atau ditampilkan oleh individu/keluarga/masyarakat setelah selesai penyampaian satu pokok bahasan
Rumusan penulisan TIU : kata kerja + objek (kompetensi)
Contoh:
setelah mengikuti materi ini, klien dapat :
 melakukan         perawatan lukan   sendiri
  kata kerja                 objek

2.    Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
TIK atau tujuan pembelajaran: berisi kompetensi khusus yang akan dicapai oleh individu/ keluarga/masyarakat setelah mengikuti satu materi pendidikan.
Kompetensi tersebut merupakan jabaran dari TIU. Berbeda dengan TIU, kompetensi pada TIK dimulai dengan jenjang yang lebih rendah dan lingkup yang lebih sempit.
Rumusan dalam TIK mengandung 4 unsur:
Sasaran + kata kerja dan objek + kondisi + tingkat penguasaan
Contoh:
Klien S + dapat menjelaskan konsep luka + minimal + 80%
     S                     kk                        o                  k           tp

3.    Topik atau Pokok Bahasan
topik atau pokok bahasan merupakan judul yang mencerminkan isi materi pendidilkan yang konsisten dengan setiap TIK. Untuk menemukan pokok bahasan ini anda harus membaca unsur objek dalam TIK. Unsur objek dalam TIK menunjukkan pokok bahasan. TIK yang baik, hanya mengandung satu unsur objek.
Contoh: KONSEP LUKA

4.    Sub Pokok Bahasan.
Sub pokok bahasan atau sub topik adalah sub judul yang mencerminkan rincian materi pendidikan yang konsisten dengan pokok bahasan.
Contoh:     1. penegertian luka
                  2. penyebab luka, dst

5.    Estimasi waktu yang dibutuhkan dalam mengajarkan materi setiap sub pokok bahasan.
Estimasi waktu merupakan perkiraan waktu (dalam satuan menit) yang dibutuhkan pendidik untuk menyampaikan/mengajarkan materi pendidikan untuk setiap sub pokok bahasan. Estimasi waktu ini penting dilakukan untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam penyampaian seluruh materi.

6.    Sumber Kepustakaan.
Merupakan buku-buku atau sumber materi lain (majalah, koran, jurnal, internet, dll) yang dijadikan referensi dalam setiap pokok bahasan  atau sub pokok bahasan.


SAP (Satuan Acara Pengajaran)
Kerangka SAP
  1. menentukan prioritas masalah
prioritas masalah ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan maslow
           
  1. mengidentifikasikan area/pesan pokok
sesuaikan dengan pokok bahasan dan sub pokok bahasan

  1. menentukan tujuan
tujuan disusun berdasarkan TIU/TIK

  1. menentukan sasaran
Sasaran berupa Individu, Keluarga/Kelompok, Masyarakat

  1. menentukan isi
merupakan materi pendidikan yang akan disampaikan, sesuai dengan TIK.

  1. menetukan metoda
metoda pembelajaran harus disesuaikan dengan sasaran dan aspek (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang ingin dicapai. Sesuaikan juga dengan sumber daya yang tersedia.

  1. menentukan media
media yang digunakan harus sesuai dengan sasaran, tingkat pendidikan, aspek yang ingin dicapai, metoda yang dipakai dan sumber daya yang ada.

  1. menentukan rencana kegiatan
terdiri dari
a.    pendahuluan: mempersiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan, menjelaskan maksud program dan tujuannya.
b.    Penyajian: penyampaian pesan sesuai metoda dan media yang digunakan.
c.    Penutup: menguji keberhasilan penyampaian pesan dan tindak lanjut.

  1. menentukan evaluasi
Evaluasi merupakan proses penilaian terhadap keberhasilan program pendidikan dengan melihat perubahan yang terjadi pada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan sesuai dengan rancangan TIK/TIU yang telah disusun sebelumnya.
Alat ukur yang digunakan untuk mengevaluasi kebersahilan tersebut dapat berupa : kuesioner, Lembar observasi (daftar cheklis), wawancara, dokumentasi.

CONTOH FORMAT
SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)
PENDIDIKAN KESEHATAN

MASALAH KESEHATAN SESUAI PRIORITAS
1. ……………………………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………………………
3. ……………………………………………………………………………………………………
4. dst

Masalah 1.
A.    Area / pesan pokok           : ………………………………………………………………….
B.    Tujuan Pendidikan
TIU                                    : ………………………………………………………………….
TIK                                    : ……………………………………………………………….....
C.   Sasaran                             : ………………………………………………………………….
D.   Hari/tanggal                       : ………………………………………………………………….
E.    Tempat                              : ………………………………………………………………….
F.    Pelaksana                         : ………………………………………………………………….
G.   Waktu (durasi)                  : ………………………………………………………………….
H.   Isi / Materi                         : ……………………………………………………………….....
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………, dst…
I.      Metoda pendidikan           : ………………………………………………………………..
J.    Media yang digunakan     : ………………………………………………………………..
K.    Rencana kegiatan             :
Tahap Kegiatan
Kegiatan Pengajar
Kegiatan Sasaran
Waktu
Pendahuluan



Penyajian



Penutup




E. Evaluasi                              : ………………………………………………………………..
F. lampiran materi selengkapnya.
Contoh SAP:
TEKNIK PERAWATAN PAYUDARA SELAMA MENYUSUI
1.    Pokok Bahasan             : Perawatan Ibu Post Partum
2.    Sub Pokok Bahasan      : Perawatan Payudara Selama Hamil
a.    Waktu                       : 30 menit
b.    Sasaran                    : Ibu bersalin (individu)
c.    Hari / tanggal            : 29 Januari 2007
d.    Tempat                     : ruang cempaka, RSB Lhokseumawe
e.    Pelaksana                : Perawat dinas pagi (nama:…………..……..)
3.    Tujuan Instruksional Umum:
Setelah Penkes ini diharapkan klien mengetahui dan mampu melakukan perawatan payudara sendiri dengan baik

4.    Tujuan instruksional Khusus:
      Setelah mendapatkan penkes ini, klien diharapkan:
a.    mengerti maksud perawatan payudara pascapersalinan
b.    mengerti tentang tujuan perawatan payudara pascapersalinan
c.    memahami cara perawatan payudara pascapersalinan dengan benar.
d.    Mau melakukan perawatan payudara pascapersalinan secara rutin.
5.    Materi:
a.    Pengertian Perawatan Payudara Pascapersalinan
b.    Tujuan Perawatan Payudara Pascapersalinan
c.    Teknik Perawatan Payudara Pascapersalinan
6.    Metoda:
a.    Ceramah
b.    Tanya-jawab
c.    Demonstrasi

7.    Media:
  1. Gambar
  2. Alat Peraga (panthom payudara)
8.    Kegiatan Belajar :
  1. Memberi salam
  2. Menyampaikan informasi tentang pendidikan kesehatan
  3. Menyampaikan strategi pembelajaran
  4. Menyampaikan materi
  5. Melakukan Demonstrasi
  6. Memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya
  7. Memberikan kesempatan kepada kllien untuk melakukan demonstrasi
  8. Evaluasi
9.    Evaluasi:
a.    pertanyaan tentang materi (apa, untuk apa dan bagaiman merawat payudara)
b.    observasi untuk melihat apakah dilakukan perawatan payudara secara rutin.

Kamis, 07 Maret 2013

0 Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan seringkali distilahkan dengan administrasi sekolah seperti halnya dalam Kurikulum 1984 (Palam Buku Petunjuk Pengelolaan) disebutkan bahwa administrasi sekolah (maksudnya manajemen pendidikan) mencakup pengaturan, proses belajar-mengajar, kesiswaan, personalia, peralatan pengajaran, gedung dan perlengkapan, keuangan serta humas atau hubungan dengan masyarakat.
Ruang lingkup manajemen pendidikan itu meliputi segala hal yang pada dasarnya ditekankan pada pelaksanaan kegiatan usaha pendidikan supaya berjalan secara teratur dan tertib yang semua itu diorientasikan pada tujuan pendidikan. Karena itu butir-butir yang menjadi cakupan atau yang termasuk ke dalam skopa manajemen pendidikan sesungguhnya amat luas dan banyak.
Sementara itu, Dr. Hadari Nawawi menyatakan bahwa secara umum ruang Iingkup administrasi berlaku juga di dalam manajemen pendidikan. Ruang lingkup tersebut meliputi bidang-bidang kegiatan sebagai berikut:a.       Manajemen Adminstrasi (administrative management).
Bidang kegiatan ini disebut juga “management of adminisrative function” yang bertujuan mengarahkan agar semua orang dalam organisasi/kelompok kerjasama mengerjakan hal-hal yang tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

b.
Manajemen operatif (operative management)
Bidang kegiatan ini disebut juga “management of operative function” yakni kegiatan-kegjatan yang bertujuan mengarahkan dan membina agar dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi beban tugas masing-masing setiap orang melaksanakan dengan tepat dan benar.
Kegiatan dalam Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan 
Adapun secara umum, ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi : 
Manajemen Kurikulum 
Kurikulum memiliki arti yang sangat luas, yaitu mencakup komponen yang lengkap terdiri dari rumusan tujuan pendidikan suatu lembaga sampai dengan penjabaranya dalam bentuk satuan acara perkuliahan yang akan dilakukan oleh seorang tenaga pengajar sehari-hari.
Pengelolaan kurikulum di sekolah harus melalui beberapa tahapan, dalam hal ini ada empat tahapan yang harus dilakukan, seperti :
1. Tahap perencanaan; di mana pada tahap ini kurikulum perlu dijabarkan sampai menjadi rencana pengajaran.
2. Tahap pengorganisasian dan koordinasi; kepala sekolah pada tahap ini mengatur pembagian tugas mengajar, penyusunan jadwal pelajaran dan jadwal kegiatan ekstrakurikuler.
3. Tahap pelaksanaan; dalam tahap ini tugas utama kepala sekolah adalah melakukan supervisi dengan tujuan untuk membantu guru menemukan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi. 
4. Tahap pengendalian; di mana dalam tahap ini ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: jenis evaluasi dikaitkan dengan tujuannya dan pemanfaatan hasil evaluasi.
Dalam pelaksanaan kurikulum untuk menunjang keberhasilan sebuah lembaga pendidikan harus ditunjang hal-hal sebagai berikut:
1. Tersedianya tenaga pengajar (guru) yang kompeten;
2. Tersedianya fasilitas fisik atau fasilitas belajar yang memadai dan menyenangkan;
3. Tersedianya fasilitas bantu untuk proses belajar mengajar;
4. Adanya tenaga penunjang pendidikan, seperti tenaga administrasi, pembimbing, pustakawan;
5. Tersedianya dana yang memadai;
6. Manajemen yang efektif dan efisien;
7. Terpeliharanya budaya yang menunjang, seperti nilai-nilai religius, moral, kebangsaan dan lain-lain; 
8. Kepemimpina pendidikan yang visioner, transparan dan akuntabel

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan kurikulum, yaitu:
1. Pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa;
2. Mengembangkan keterampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber yang ada; 
3. Pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah
   Manajemen Kesiswaan 
Siswa sebagai peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Pengelolaan mencakup penerimaan siswa baru, layanan bimbingan dan penyuluhan, pengelolaan siswa di dalam kelas, pengelolaan organisasi siswa intrasekolah dan pengelolaan data tentang siswa.
Berkenaan dengan manajemen kesiswaan, ada beberapa prinsip dasar yang harus mendapat perhatian berikut ini:
1. siswa harus diperlakukan sebagai subjek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
2. Keadaan dan kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.
3. Pada dasarnya siswa hanya akan termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan 
4. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi ranah efektif dan psikomotorik.
Manajemen Personalia Sekolah
 
Pada dasarnya yang dimaksud personalia di sini ialah orang-orang yang melaksanakan sesuatu tugas untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks lembaga pendidikan atau sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai. Oleh sebab itu, personalia di sekolah meliputi unsur guru (tenaga pengajar) dan unsur karyawan (tenaga administratif). Secara lebih terperinci dapat disebutkan keseluruhan personalia sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha dan penjaga sekolah.
Dilihat dari prosesnya, manajemen personalia sekolah mencakup mulai dari pengadaan, pengangkatan, pembinaan, pengawasan, pemberhentian dan penugasan yang perlu dicermati untuk memperoleh sistem manajemen personalia yang paling cocok dalam pendidikan.Persoalan manajemen personalia lainnya menyangkut kriteria, pembentukan, pembinaan, pengawasan dan pengembangan profesi yang mungkin dalam suatu organisasi pendidikan terdiri dari berbagai ragam profesi.


Tata Laksana Sekolah
Masalah tata laksana sekolah pada dasarnya cukup kompleks, namun demikian untuk telaah dapat ditelusuri pemanfaatannya dari berbagai sisi yaitu :

a)     
Segi jenisnya, secara makro seluruh lingkungan fisik dalam suatu satuan pendidikan yang dirancang untuk memberikan fasilitas dalam proses pendidikan, sepeti rancangan halaman, tata letak gedung, taman, prasarana jalan, tempat parkir dan lain-lain. Sementara itu, secara mikro ada tiga komponen sarana pendidikan yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran, yaitu buku pelajaran dan perpustakan, peralatan laboratorium beserta bahan praktiknya dan peralatan pendidikan di dalam kelas.
b)     
Segi prosesnya, persoalan tata laksana sekolah berangkat dari desain, penyusunan naskah, standarisasi spesifikasi, penggandaan atau pengadaan distribusi, sampai pada penempatan dalam sekolah yang berkaitan dengan dukungan prasarana yang diperlukan.
c)     
Segi fungsi dan pemanfaatanya, terutama dalam konteks proses pembelajaran, yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran. Namun secara garis besarnya tata laksana sekolah meliputi lima hal, yaitu penentuan kebutuhan, proses pengadaan, pemakaian, pencatatan atau pengurusan dan pertanggungjawaban.

Manajemen Keuangan
Paling tidak ada tiga persoalan pokok dalam manajemen keuangan, yaitu financing, menyangkut dari mana sumber pembiayaan diperoleh, budgeting, bagaimana dana pendidikan dialokasikan dan accountability, bagaiamana anggaran yang diperoleh digunakan dan dipertanggungjawabkan.

Sumber anggaran pendidikan menjadi semakin kompleks, sistem pengalokasiannya juga melalui berbagai jalur sehingga pengelolaan penggunannya sampai kepada pertanggungjawabanya menjadi semakin kompleks. Sistem pengelolaan pembiayaan pendidikan di pusat, provinsi, kabupaten juga sangat berbeda karena wewenang dan perolehan anggaranya juga berbeda.

 
Organisasi Sekolah
Organisasi dapat diartikan sebagai memberi struktur atau susunan terutama dalam penyusunan atau penempatan orang-orang dalam suatu kelompok. Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah semuanya harus bertanggunmg jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar tidak terjadi overlapping (tabrakan) dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur. Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing-masing.

Adapun faktor yang dapat mempengaruhi perbedan-perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain:
a. Besar kecilnya sekolah
Ada sekolah yang memepunyai banyak murid, banyak guru dan banyak pula ruangan belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya.
b. Letak sekolah
Letak sekolah atau lingkungan sekolah menetukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikutsertkan di dalam membangun dan membina sekolah itu.
c. Jenis dan tingkatan sekolah
Sekolah kejuruan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar tidak sama dengan SLTP/SLTA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi. Tujuan khusus tiap-tiap sekolah yang tidak sejenis itu tidak sama.

0 Ruang lingkup Filsafat Ilmu

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT ILMU


 A. Pendahuluan
Konsep dasar filsafat ilmu adalah kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan fungsi serta kaitannya dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Berikutnya dibahas pula tentang karakteristik filsafat, ilmu dan pendidikan serta jalinan fungsional antara ilmu, filsafat dan agama. Pembahasan filsafat ilmu juga mencakup sistematika, permasalahan, keragaman pendekatan dan paradigma (pola pikir) dalam pengkajian dan pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistomologis dan aksiologis. Selanjutnya dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu sebagai landasan dalam rangka pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik pendekatan kuantitatif dan kualitatif, maupun perpaduan kedua-duanya.
Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu menurut Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Dalam pokok bahasan ini akan diuraika pengertian filsafat ilmu, dan obyek yang menjadi cakupannya.1)

B. Pembahasan

1. Pengertian Filsafat Ilmu
Istilah filsafat bisa ditinjau dari dua segi, semantik dan praktis. Segi semantik perkataan filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang berarti philos = cinta, suka (loving) dan Sophia = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
2) Pengertian ilmu yang dikemukakan oleh Mohammad Hatta adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam.
Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran mendefinikan ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia.
______________________________
1. http://gurutrenggalek.blogspot.com
2. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 9
3. http://filsafat-ilmu.blogspot.com
Menurut Robert Ackerman filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck, memberi pengertian bahwa filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Menurut A. Cornelius Benjamin filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual. Michael V. Berry berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.
Menurut May Brodbeck filsafat ilmu adalah analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan kesalahan. 4)
_____________________________
4. http: //areknarsis.dagdigdug.com
Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Ringkasnya filsafat adalah hasil akal seseorang manusia yang memikirkan dan mencari suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu.5)
Stephen R. Toulmin mengemukana bahwa sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.6)
Dari uraian di atas akan diperoleh suatu gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
________________________
5. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 9
6. http: //areknarsis.dagdigdug.com
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ?
2. Obyek Filsafat Ilmu
Imam Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Ia terbagi dua, pertama mengetahui inti sesuatu itu, kedua menghukum adanya sesuatu pada sesuatu yang ada atau menafikan sesuatu yang tidak ada, maksudnya mengatahui hubungan sesuatu dengan sesuatu.7)
Louis Kattsoff mengatakan bahasa yang dipakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicarakan mengenai ilmu pengetahuan dan bukannya dalam ilmu pengetahuan.
_________________________
7. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Namun apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.8)
Dari sudut pandang lainnya Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa ilmu dapat pula dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu rasional dan dokrinal. Ilmu rasional adalah ilmu yang didapat dengan akal dan penelitian, sedangkan ilmu dokrinal merupakan ilmu yang didapatkan dengan memberitakan wahyu dan nabi.9)
Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam obyek, yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek formalnya adalah metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.
________________________
8. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
9. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu:
1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal
a. Fakta (Kenyataan)
Yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa aliran filsafat yang meberikan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah positivisme, –ia hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya. Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti–. Fakta itu yang faktual ada phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti.
Tetapi subyektifitas di sini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif disini dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis sampai pada kesimpulan.. Data selektifnya mungkin berupa ide , moral dan lain-lain. Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga terkait pada konsep-konsep yang dimiliki. Kenyataan itu terkonstruk dalam moral realism, sesuatu itu sebagai nyata apabila ada korespondensi dan koherensi antara empiri dengan skema rasional.
Mataphisik sesuatu sebagai nyata apabila ada koherensi antara empiri dengan yang obyektif universal. Yang nyata itu yang riil exsist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif. Empiri bukan sekedar empiri sensual yang mungkin palsu, yang mungkin memiliki makna lebih dalam yang beragam. Empiri dalam realisme memang mengenai hal yang riil dan memang secara substantif ada. Dalam realisme metaphisik skema rasional dan paradigma rasional penting.
Empiri yang substantif riil baru dinyatakan ada apabila ada koherensi yang obyektif universal. Pragmatis, yang ada itu yang berfungsi, sehingga sesuatu itu dianggap ada apabila berfungsi. Sesuatu yang tidak berfungsi keberadaannya dianggap tidak ada
Rasionalistik : Yang nyata ada itu yang nyata ada, cocok dengan akal dan dapat dibuktikan secara rasional atas keberadaanya.10)
b. Kebenaran
Positivisme, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan empiri sensual. Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi tinggi atau variansi besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain phenomenology, kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Secara esensial dikenal dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi. Bagi phenomenologi, phenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercaya. Realisme Metaphisik, ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran obyektif universal. Realisme, sesuatu itu benar apabila didukung teori dan ada faktanya. Realisme baru menuntut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri terkonstruk pula. Islam, sesuatu itu benar apabila
________________________
10. http://gurutrenggalek.blogspot.com
yang empirik faktual koheren dengan kebenaran transenden berupa wahyu. Pragamatisme, mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori kebenaran, yaitu,
  - Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran proposisinya baik proposisi formal maupun proposisi materialnya.
  - Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu dengan fakta yang lain). Selanjutnya teori ini kemudian berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural Paradigmatik, yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya mengkonstruk beragam konsep dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu/structure of science) tertentu yang kokoh untuk menyederhanakan yang kompleks atau sering
  - Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.
  - Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.
  - Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.
2. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:
a. Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian a priori dan a posteriori. Untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi para ahli mendasarkan pada dua aspek: (1) Aspek Kuantitatif; (2) Aspek Kualitatif.Dalam hal konfirmasi, sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu,
- Decision Theory, menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.
 - Estimation Theory, menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar – salah dengan menggunakan konsep probabilitas.
- Reliability Analysis, menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hipotesis.11)
_________________________
11. http://gurutrenggalek.blogspot.com
b. Logika Inferensi
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu : Principium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan Principium Exclutii Tertii ((Qanun Imtina’). Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi utama logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. 12)
Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filsuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa disiplin ilmu.13)
3. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Pada dasarnya , setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan,seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis
_________________________
12. http://gurutrenggalek.blogspot.com
13. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
dan adil juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak.
Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal,dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh, radiakl dan rasional tentang segala yang ada. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang peraktis.inilah peroses terbentuknya ilmu secara bersenambungan .Will Durant mengibaratkan filsafat bagaikan pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. 14)
Pada bagian lain dikatakan bahwa filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahnya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan.15)
Karena itu filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Sebab,dari filsafat lah, ilmu-ilmu moderen dan kontemporer berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus buahnya, yaitu
_____________________________
14. http://bebenbernadi.wordpress.com
15. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
teknologi. Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,tetapi sudah menjadi sektoral. Contohnya, filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu.
Di sisi lain, perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja membuat ilmu semakin jauh dari induknya,tetapi juga mendorong munculnay arogansi dan bahkan kompartementalisasi yang tidak sehat antara satu bidang ilmu dengan yang lain. Tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagi kepentingan. Falsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, menyeluruh dan rasional dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalm filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memeahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.15)
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan,dan kemajuan ilmu di berbagai bidang,sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya mempertegas bahwa dalam persoalan sumberdan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan. Ilmu pada perinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematiskan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam
_______________________
15. http://bebenbernadi.wordpress.com
kehidupan sehari-hari. Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual.pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia,yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal.
Dari sisi lain Raghib al-Asfahani juga membagi ilmu sebagai ilmu teoritis dan aplikatif. Ilmu teoritis berarti ilmu yang hanya membutuhkan pengetahuan tentangnya. Jika telah diketahui berarti telah sempurna, seperti ilmu tentang keberadaan dunia. Sedangkan ilmu aplikatif adalah ilmu yang tidak sempurna tanpa dipraktikkan, seperti ilmu tentang ibadah, akhlak dan sebagainya.16
Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Dia memikirkan hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu.manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna kepada kehidupan, manusia” memanusiakan diri dalam hidupnaya” dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu.
________________________
16. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Dengan menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat dalam pikiran. Kesulitan tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya benar segi subjektif. Dengan jalan memberi pertimbangan-pertimbangan yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tiap benda mempunyai satu sebab. Contohnya apa yang menyebabkan Ahmad menjadi sakit.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda. Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja. Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya espistemologi.17)
C. Kesimpulan
Filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu
Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik dan intensif.
______________________
17. http://bebenbernadi.wordpress.com
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos.
Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).
Referensi
• A. Mustofa, Filsafat Islam, 2004, Bandung: Pustaka Setia
• Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, 2004, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://salwintt.wordpress.com/artikel/kisah-islami/pengertian-dan-ruang-lingkup-filsafat-ilmu/
 

Nikychoy Synyster Blog Copyright © 2011 - |- Template created by Niky Choy